06/11/2009

Kemana Afifah?

Kemana Afifah?
Bertahun sudah tak jumpa
Sekelebat pun tak kulihat
Sebaris kabar jua tak sampai
Tapi Afifah masih duduk-duduk dalam benakku
Setiap hari, selama hidupku…
Sejak saat itu, sampai saat ini

Afifah bertutup kepala merah muda dengan baju bernada sama,
Itu nyata yang kuingat
Lesung pipi
Kulitnya putih bersih
Tersenyum manis sekali
Tulus sekali
Belum pernah lagi kujumpa gadis secantik dan setulus Afifah
Belum pernah…

Afifah seperti perpanjangan tangan dari Ibu
Afifah seperti utusan Malaikat
Afifah memperkenalkan Rakib dan Atid
Afifah mengajarkan jangan berkata yang tidak baik
Afifah tidak dibuat-buat
Afifah tulus
Tak pernah kudengar berita buruk tentangnya
Jangan sampai…

Afifah, kurasa aku meng ‘ibu peri’ kan kau tanpa sengaja selama ini
Bukan maksudku Afifah
Tapi kau duduk-duduk di dalam kepalaku,
Seolah marah… seolah senyum
Berganti-ganti dengan hari seperti mengawasiku

Kemana kau Afifah?
Terakhir kuingat kau dan gaun pengantin
Melangkah ringan menawarkan penganan

Aku tak pernah bercakap-cakap denganmu dulu, masih terlalu kecil…
Yang kuingat saat kau bercakap denganku penuh senyum,
Aku hanya menganga menatap Afifah

Kurasa jika pemuda bertemu Afifah,ingin rasanya meminang
Namun sekaligus segan…
Afifah seperti nama moyangku;
‘Elok Kato’
‘Elok Bunyi’

Afifah nan elok
Begitu pantas kata itu untukmu

Kemana kau Afifah?
Adakah kita jumpa lagi kelak…?
Mari kita nyanyikan kembali lagu yang dahulu
Bersama kita bergembira,
Bergembira di taman kanak-kanak……

“taman yang paling indah,hanya taman kami
taman yang paling indah, hanya taman kami
tempat bermain berteman banyak
itulah taman kami taman kanak-kanak”

22/09/2009

Penjual Kenangan

Kalau kau berjalan-jalan ke pasar itu, coba tengok di pojok. Ada rumah mungil berwarna putih, bentuknya manis, sederhana saja, dengan dua jendela kaca di kanan dan kiri dengan pintu berwarna senada diantaranya. Bebungaan tumbuh tertata rapi di halaman. Rumah itu bukan sekedar rumah tinggal, namun ia juga sebuah toko. Tidak ada papan nama yang besar untuk toko itu, hanya papan kayu kecil bertuliskan ‘jual kenangan’.

Tidak seperti di kios-kios yang lain di pasar, terutama kios sembako yang selalu penuh dengan pembeli, toko mungil dan sekaligus rumah yang asri itu tampak sepi, hanya satu dua orang yang nampak keluar masuk pintu.
Tapi selalu saja ada yang datang, hampir setiap hari, yang datang biasanya melongok-longok kaca jendela depan, menarik lonceng kecil bermodel kuno yang tergantung di sebelah kanan pintu. Kemudian akan dipersilakan masuk oleh si empunya toko.

Wajah-wajah yang keluar masuk toko itu diam-diam mencuri perhatian orang-orang di sekitar, para pedagang kios, para pembeli, tukang ojek, penjual bunga, pedagang kue. Semua kerap mencuri lihat. Kadang tanpa sengaja menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala dagangan tidak terlalu laku, seraya menebak-nebak apa yang terjadi di dalam rumah itu.

Perempuan dan laki-laki yang datang biasanya mencari kenangan cinta di masa lalu, tidak hanya sepotong, tapi bergudang-gudang kenangan dibongkar disana. Ternyata orang terkadang begitu rakus pada kenangan. Beberapa keluar toko sambil tersenyum, ada yang murung, sekali dua perempuan terlihat bergegas sambil mengusap air mata, ada juga yang tertawa terbahak-bahak.
Pejabat mencari kenangan masa jayanya, orang tua mencari kenangan masa kanak-kanaknya, masa remajanya juga tak ketinggalan ditengok. Veteran, guru, pegawai, mahasiswa, artis ibu kota, hampir semua, hampir semua orang di kota itu mencari kenangan yang tercecer… datang dan pergi dalam diam. Termasuk orang-orang yang ditinggal dan pergi meninggalkan.

Di rumah yang menjual kenangan itu tinggal seorang laki-laki hampir separuh baya dengan seorang pemuda tanggung usia. Sesekali terlihat anak dan bapak itu bercakap-cakap di sore hari, sambil mengurus kebun bunganya, tak jarang sambil minum teh dan bernyanyi-nyanyi, terkadang lagu keroncong atau melayu seperti keinginan si Bapak, terkadang lagu masa kini seperti keinginan si anak yang bermain gitar. Hanya berdua saja, berdua.

Keberadaan toko itu diketahui dari desas desus saja, tidak diiklankan di koran atau selebaran apalagi di televisi. Dari mulut ke telinga, ke mulut lagi lalu ke telinga, beberapa berita tentang toko itu kemudian sampai ke pikiran lalu ke hati, bila sudah sampai ke hati, beberapa orang akan mencari toko itu.
Tidaklah sulit mencarinya, karena tidak banyak toko yang menjual kenangan.
Namun tak jarang yang ragu untuk melangkahkan kaki ke dalam, hanya tepekur di depan pagar yang rendah berwarna putih, menatap lekat-lekat papan kecil bertuliskan ‘jual kenangan’, terkadang ada yang berbalik arah, tidak jadi masuk, namun beberapa hari kemudian datang kembali.

Suatu sore datang seorang laki-laki berusia sekitar setengah abad.
Laki-laki itu mematung di depan pagar putih, di depan halaman nan asri. Ia menimbang-nimbang, apakah jadi kulongok sedikit kenangan itu? apa Ia punya kenangan yang kucari? Apa benar seperti yang dikatakan orang-orang, toko ini memang menjual kenangan? Bagaimana kenangan bisa dijual?

Ragu laki-laki itu melangkahkan kakinya ke halaman rumah tersebut. Sampai di depan pintu, Ia menarik nafas dalam-dalam. Baru saja Ia mengangkat tangannya untuk menarik lonceng, tiba-tiba pintu terbuka, kedua laki-laki itu terkejut.

“Ah… cari siapa?” tanya si penjual kenangan.
“Maaf, tapi.. apa betul tempat ini… “
“Menjual kenangan?”, potong si empunya rumah.
“Ya..”, sahut pengunjung toko pelan.
“Ya, saya menjual bermacam-macam. Macam-macam barang yang saya temukan selama dalam perjalanan saya ke sana kemari!”
“Macam-macam barang?”
“Ya barang… ah duduklah…”
Laki-laki penjual kenangan itu masuk ke dalam rumahnya yang mungil, tak lama Ia datang bersama pemuda yang tinggal bersamanya dengan dua gelas kosong dan seteko besar limun dingin.

Pemuda menuangkan limun ke dalam dua gelas bening, titik-titik air kemudian muncul pada sisi gelas, terlihat nikmat dan sejuk sekali di sore yang gerah.
Kemudian pemuda tanggung itu masuk ke dalam.

“Silahkan…”.
Tamu mengangguk, kemudian mereka berdua meneguk minuman itu dengan cepat.
“Panas sekali hari ini bukan?” tanya penjual kenangan.
“Iya, mungkin akan turun hujan”
“Biasanya begitu.”

Si tamu memandang halaman rumah yang penuh dengan bunga warna warni.
“Anda senang tanaman rupanya”.
Penjual kenangan tersenyum, “Mereka itu seperti teman bagi saya, kadang menyenangkan, kadang luka pula dibuatnya.”
“Ya…”, sahut si tamu sambil tetap mengagumi halaman mungil nan asri tersebut.

“Jadi maksud kedatangan anda…”
“Ah begini, saya mendengar bahwa disini menjual….”, ragu dia meneruskan
“Kenangan?”
“Ya, kenangan.” lanjutnya sambil sedikit meringis.
Penjual kenangan terkekeh melihat tamunya.
“Ya saya menjual kenangan, apakah anda sedang mencari kenangan anda?”
“Apakah anda punya kenangan milik saya?”, tanyanya sedikit terkejut.
“Saya tidak tahu, begitu banyak kenangan tercecer disana sini dalam perjalanan saya yang kesana kemari.” Ia mengambil pipanya, menaruh sedikit tembakau, kemudian membakar lalu menghisapnya dalam-dalam. Asap bulat mungil keluar dari mulutnya yang berjanggut putih.

“Saya tidak tahu itu kenangan milik siapa saja, tapi saya mengambilnya, karena saya pikir… ada saja orang yang akan mencarinya kembali, dan jika kenangan itu sengaja dibuang, saya pikir saya akan mencegahnya berpapasan lagi dengan pemiliknya, kebanyakan itu adalah kenangan buruk, buruk bagi si pemiliknya tentu. Bagi saya tidak, jadi saya tidak merasa terganggu menyimpannya.

“Lalu untuk apa kenangan buruk itu anda simpan?”
“Kadang saya pelajari, mmm… kenapa kenangan itu bisa menjadi begitu buruk bagi seseorang.”
“Apa yang anda dapat?”
“Haha, kebanyakan bagaimana cara kita bersikap atau memandang sesuatu saja, tapi saya tidak tahu jika saya di posisi si pemilik kenangan, mungkin saya akan bersikap sama dengan mereka. Jadi anda mau mencari kenangan anda atau tidak?”
Tamu mengangguk.
“Mari, kalau begitu saya antarkan.”
“Sebentar… berapa biayanya?”
“Biaya?”
“Iya, biaya untuk membeli kenangan saya, apabila kenangan saya memang ada di dalam”

Penjual kenangan tertawa terkekeh, diteguknya limun dingin yang masih tersisa di dalam gelas.
“Tidak usah dibayar. Gratis!” katanya mantap.
“Ha? Bagaimana bisa begitu? Di papan itu tertulis menjual kenangan, bukan membagi kenangan.”, si tamu bingung.
“Anda menolak?”
“Bukan, hanya…”
“Seringnya orang memang mempersulit diri sendiri bukan? Kebanyakan mengagumi barang mahal yang mengilap daripada barang obral atau gratisan yang mungkin fungsinya masih sama hanya tampilan luarnya lebih kusam…”, penjual kenangan itu tertawa terkekeh sambil mengintip dari balik kacamata bacanya.
“Tapi kenapa….?”
“Kenapa? untuk memikat orang tentu, seperti kata saya tadi, kebanyakan orang lebih suka membeli daripada diberi, termasuk saya kadang. Jadi kata menjual itu untuk pancingan.” seringainya.
“Lalu apa keuntungan anda?”
“Saya cuma ingin mengosongkan sedikit gudang kenangan yang saya punya. Sudah terlalu penuh, berisik! Lagi pula bukan semuanya kenangan itu milik saya atau kerabat saya.”
“Hanya itu?”
“Hanya itu, jadi…?”, si penjual kenangan membentangkan tangannya mengarah ke pintu masuk rumahnya. Si tamu terlihat canggung, mengikuti penjual kenangan masuk ke dalam.

Sejuk terasa di dalam rumah itu, sejuk bukan buatan pendingin ruangan. Mereka terus berjalan ke bagian belakang rumah, melintasi ruang keluarga. Sesaat sebelum berlalu, penjual kenangan menyapa pemuda yang tengah bermain video game.

Penjual kenangan dan tamunya tiba di satu ruangan, tidak terlalu besar, bersih, barang-barang tertata rapi di ruangan itu.
“Silahkan, carilah kenangan anda.”, ujar penjual kenangan tersenyum ramah.
Si tamu serupa bingung wajahnya, bagaimana mencari kenangan di dalam ruangan ini?.
“Cari saja, kebanyakan orang pertama kali akan bingung.”
“Saya memang bingung, bagaimana mencari kenangan di sini? Cuma ada barang-barang yang…”
“Yang kebanyakan sepertinya cuma sampah?”
Si tamu terdiam, takut menyinggung perasaan si penjual kenangan. Senyum terkembang tak lepas dari wajah si penjual kenangan,”Kenangan seringkali memang buram bukan? Karena memang bukan barang baru.”
“Tapi bagaimana saya bisa tahu kenangan saya ada disini?”
“Ada berapa banyak kenangan anda?”
“Banyak…”
“Yang anda cari?”
“Ah…”
“Santai sajalah, duduk-duduk dengan tenang. Anda boleh menyetel radio atau piringan musik lama milik saya. Nanti akan ketemu sendiri apa yang anda cari, mungkin…. . Saya tinggal dulu.” Penjual kenangan berlalu menutup pintu.

Si tamu kemudian duduk bersila diatas karpet dengan motif kotak-kotak berwarna warni, di sebelahnya sebuah meja kecil menopang sebuah radio kaset. Meja di tengah ruangan yang berukuran lebih besar diletakkan sebuah pemutar piringan hitam.
Tamu itu perlahan bangkit dari duduknya, menghampiri koleksi piringan hitam milik penjual kenangan. Tersenyum-senyum si tamu memandang koleksi piringan hitam itu, dipasangnya sebuah. Lagu mengalun, tamu itu menarik nafas dalam, senyumnya makin mengembang, ah…. puluhan tahun lalu seolah terasa hadir kini.

Tamu itu kemudian teringat bahwa dia harus mencari kenangannya, kenangan yang membuatnya datang jauh-jauh dari luar kota. Bagaimana mencarinya? Si penjual kenangan mengatakan bahwa ‘nanti juga akan ketemu’? Apa di ruangan ini ada katalog kenangan? Apa di setiap kenangan tercantum nama pemiliknya? Apa? Bagaimana? Dimana?, di ruangan itu hanya terlihat barang-barang kusam, seperti barang rongsokan, tapi sudah dibersihkan dan ditata cukup rapih disana sini. Tapi tetap saja kusam, buram.

Si tamu memanjangkan kakinya, bersandar pada dinding yang dingin. Sejenak tamu itu seolah canggung, bingung. Pandangannya menjelajah seluruh isi ruangan, lagu yang diputarnya dari piringan hitam seolah menelan suara-suara sayup dari luar ruangan itu, seolah hanya ada lagu tersebut dan dia, seolah semua yang didalam ruangan itu bertambah buram. Lagu itu menyeret pandangannya pada lemari di seberang ruangan, tepat di depannya. Tamu itu beranjak pelan mendekati lemari tersebut dengan perasaan tertarik, di depan lemari itu dia tercenung. Di amatinya sebuah kotak kayu pada rak paling atas. Perasaannya seperti terseret sedikit demi sedikit, diraihnya kotak kayu itu, dibukanya perlahan. Tamu itu ternganga, kotak kayu itu terbuka lebar, kini hanya ada lagu yang mengalun, kotak kayu dan tamu itu. Gemetar jarinya mengais-ngais perlahan isi kotak tersebut.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ada disini? Kenangan ini, sekotak penuh kenangan ini? Si tamu masih menatap tidak percaya pada kenangan dalam kotak itu.
Sontak tamu itu terkejut dengan dobrakan pintu, penjual kenangan dengan napas tersengal merebut kotak kayu dari genggaman tangan si tamu.
“Yang ini jangan!”, teriak si penjual kenangan. Si tamu berdiri terhuyung saat kotak itu direbut dari tangannya.
“Yang ini jangan! Ini punyaku!, pundak penjual kenangan naik turun seiring napasnya, nampak dia seperti tergopoh setengah berlari menuju ruangan itu.
“Bagaimana mungkin?”, si tamu bertanya lirih dengan wajah terperangah.
Keduanya bertatapan tergeragap, lagu tetap mengalun.
“Ini punyaku!”, mata penjual kenangan melotot pada si tamu.
“Tapi itu milikku, kenangan itu milikku, kau…”
Susah payah si penjual kenangan menahan sakit di tenggorokannya, dua matanya berkaca.
“Dimana kau temukan kenanganku?”, tanya si tamu dengan wajah terperangah, jantungnya berpacu.
“Tidak kutemukan!”
“Kau mencurinya dariku?”
“Tidak! Kau merebutnya dariku!”
“Bagaimana mungkin….”
“Ini seharusnya punyaku! Kau merebutnya dariku… KAU MEREBUTNYA!”
“Kau…”
“Iya, ini aku!”,
“Barjan…”
“Betul, ini aku! Kau merebut semua kenangan ini dariku, Jamal!”
“Bagaimana bisa aku merebutnya darimu? Justru aku yang seharusnya bertanya bagaimana bisa kenanganku ada di dalam kotak ini, di dalam rumahmu ini!”

Penjual kenangan terdiam, sakit di tenggorokannya makin tak tertahan, perlahan jatuh kedua air matanya.
“Kau merebutnya dariku! Jadi ku ambil kembali semua kenangan itu…” bergetar suara penjual kenangan.
“Bagaimana bisa?!” suara si tamu meninggi.
Pejual kenangan terdiam, si tamu merebut kotak itu darinya, kali ini si penjual kenangan membiarkannya.
“Ini kenanganku, ini kenanganku, dan ini jelas-jelas kenanganku!”, si tamu tergopoh membongkar dan mengangkat kenangan yang ada di dalam kotak itu satu persatu.

Keduanya lalu bersitatap tegang, si tamu menatap penuh curiga, penjual kenangan menatap si tamu dengan marah sekaligus seperti maling yang terbukti mencuri di tengah ramainya sidang, darahnya berdesir. Direbutnya kembali kotak itu dan memasukkan kenangan-kenangn yang berserakan di lantai.
“Seharusnya itu menjadi kenanganku Jamal…”
“Lalu mengapa tidak?”
“Mulutku terlalu berat Jamal, lidahku kaku”"
“Picisan sekali kau Barjan”
“Kau yang picisan! Mudah sekali berkata-kata indah padanya dulu, sehingga dia memilihmu!”
“Kau yang bodoh! Diam saja seribu tahun! Apa yang kau nanti?”
“Rasaku terlalu dalam untuk kukatakan Jamal…”
“Bah! Sedalam kebodohanmu? Dia hanya menunggu kau mengatakannya dulu! Tapi tidak! Kau terlalu banyak pertimbangan! Terlalu takut bertepuk sebelah tangan! Terlalu takut patah hati! Payah kau Barjan!”
“Kau merebutnya Jamal!”
“Dia datang padaku sekali dua hanya untuk bercerita tentangmu Barjan, bagaimana perasaannya padamu, tapi dia pun tak mau mengucap rasa padamu, dia ingin kau yang mengatakannya terlebih dulu!”

Bergetar tubuh penjual kenangan, “Kenapa tak kau katakan padaku Jamal?”
“Aku tidaklah bodoh Barjan, tak mau kutipu diriku sendiri kalau aku juga menginginkannya, tapi aku tidak mencuri, aku tidak memaksanya, dan aku tidak memburuk-burukkanmu supaya dia memilihku, sama sekali tidak! Dia pun akhirnya memilihku dalam keadaan setengah hati Barjan, namun kuraih hatinya semampu yang ku bisa, dan… hasilnya adalah yang kau pegang sekarang!”
Lemas sudah penjual kenangan mendengarkan ucapan tamunya, terduduk ia di lantai.
“Berikan kenanganku, Barjan…”
“Tapi hanya kupinjamkan…”, penjual kenangan menatap nanar.
Si tamu dengan berdebar meraih kotak itu dari tangan penjual kenangan dan membukanya, sedikit dibukanya kotak itu…
“Jangan kau buka disini!, sambar penjual kenangan cepat.
Keduanya terdiam, “Aku pamit Barjan, dua hari lagi kukembalikan.”
Tamu itu kemudian berbalik badan berjalan menuju pintu keluar, penjual kenangan terduduk lesu dengan air mata mengalir.
Tergeragap kemudian dikejarnya tamu yang hendak menggapai pagar halaman yang penuh bunga, “Jamal!”, terkejut si tamu menghentikan langkahnya dan berbalik. “Kau bawa saja kenangan itu, aku tak butuh lagi!” ujar penjual kenangan dengan suara yang terkesan ditegar-tegarkan.

Tamu itu terdiam, senang bertunas di hatinya, namun ditahannya agar tidak berbunga wajahnya di depan kawan lamanya.
Si tamu mengangguk penuh terimakasih dan pergi. Penjual kenangan itu kemudian menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya, saat melintasi ruang tengah, dia berkata pada pemuda yang tinggal bersamanya ” Ali, besok bantu aku buang semua kenangan itu”
“Semuanya Paman?”
“Iya, semua! Semua!” ujarnya tegas. “Kenangan-kenangan itu cuma membuat kupingku pekak, berisik!” katanya sambil berlalu menuju kamarnya. Tak lama langkahnya terhenti, “Kita sisakan sedikit Ali, seperlunya! Kenangan itu seharusnya memang tersisa seperlunya saja!”
“Lalu…”
“Besok kau antar aku melamar janda yang rumahnya di seberang kali sana!”
“Yang suka mengirim kembang pertanda cinta sejuta rasa itu?” tanya pemuda tanggung sambil tersenyum menyindir.
“Yang mana lagi menurutmu?”, si penjual kenangan menjawab sebal.
“Kenapa berubah pikiran?”
“Aku tidak mau lagi menghabiskan umurku dengan menenggak kenangan punya orang, jadi kupikir.. kubuat saja kenanganku sendiri, siapa tahu lebih indah dari punya orang lain! Lagipula kalau sudah ada temanku di rumah ini, kau tak perlu repot-repot menemaniku hampir saban hari!” masih dia memunggungi pemuda itu.
“Bagaimana kalau aku masih ingin direpotkan?”
“Tak rugilah aku kalau begitu!”
“Jadi mau kucarikan minyak wangi yang harumnya seperti apa?”, pemuda itu berusaha menahan tawa, hatinya sendiri girang.
“Yang paling yahud!” senyum si penjual kenangan tanpa berbalik badan, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju halaman, saatnya menyiram bunga, pekiknya dalam hati.

06/08/2009

Jendela Tua – Iyut Fitra

http://cetak.kompas.com/

Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan.

Sebuah jam lama di tonggak rumah gadang menunjukkan pukul delapan malam. Ibu tua itu baru saja selesai berdoa setelah sholat isya. Dengan sedikit tertatih ia berjalan menuju almanak yang tergantung di dinding. Setelah mengamati angka demi angka dalam almanak tersebut, perhatiannya beralih pada sebuah foto keluarga dengan bingkai yang lumayan besar di sisi dinding yang lain.

Ibu tua itu mengamati satu persatu foto yang terpampang tersebut. Suaminya. Dan lima orang anaknya. Tiga laki-laki dan dua orang perempuan. Entah mengapa, mereka sama-sama tersenyum saat berfoto. Ibu tua menghela nafas panjang.

”Kesunyian juga akhirnya yang menetaskan rindu. Suara anak-anak. Canda keluarga. Barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara. Adakah kesendirian dapat melunasi semua itu?” ibu tua itu bergumam sendiri, lalu berjalan menuju kursi kayu untuk memulai aktivitasnya tiap malam, menjahit. Merenda kain pintu atau taplak meja sebagai perintang waktu sebelum larut mengirimkan kantuk. Sebelum ia benar-benar jenuh dengan rangkak malam yang akhir-akhir ini ia rasa bergerak sangat lamban.

Usianya sudah enam puluh lima tahun. Meski wajahnya masih mencerminkan ketegaran, tapi semua itu tidak mampu menghadang tiap lembar rambutnya yang memutih serta kulitnya yang keriput. Semenjak ketiga anaknya yang laki-laki beristri, dan kedua anaknya yang perempuan bersuami dan memilih menetap di rantau, serta semenjak suaminya meninggal, rumah gadang itu mulai sunyi. Hanya Upik, seorang anak perempuan tetangga yang masih kelas enam SD yang menemani kehidupannya menjalani hari-hari. Tak banyak kesulitan memang dalam hidupnya. Selain harta dan tanah pusaka yang banyak menghasilkan seperti kelapa, padi, jagung dan sebagainya, anak-anaknya pun tidak pernah absen untuk mengirimkan uang tiap bulan. Tapi kesunyian dengan apa harus dibayarnya?

”Apa yang dapat dimaknai dari rumah gadang kebesaran. Lengkung luas kelapangan. Tanah, sawah, dan tanaman yang berlimpah. Sementara sekeping jiwa larut dalam lengang…,” sering ia keluhkan itu. Sering perasaan itu mendatangi dan mengganggu ketenangan malam-malamnya.

Tiap hari dilalui oleh ibu tua seolah-olah waktu tak ada guna. Bangun pagi-pagi. Setelah sholat subuh dia mulai memasak. Lalu membersihkan rumah. Lalu mencabut-cabut rumput. Lalu menunggu Upik pulang sekolah. Lalu makan. Lalu menjahit. Lalu tidur. Lalu…

Sering ia tersenyum sendiri apabila mendengar lantunan tape dari rumah tetangga dengan lirik pantun Minang yang menggelitik: Kalaupun ada batang cumanak. Daunnya banyak yang muda. Kalaupun ada banyak dunsanak. Tapi tak ada tempat beriya. Ya, mereka semua jauh. Rantau lebih memikat mereka ketimbang dusun yang lengang. Gegas kota lebih membuat hidup terasa berdenyut dibanding lengking bangsi yang merusuh hati. Ibu tua tak sanggup memaksa mereka untuk pulang, untuk menetap di kampung. Apalagi semua anaknya telah memiliki rumah sendiri di rantau. Memiliki keluarga sendiri.

”Mungkin ini yang ibu-ibu lupa. Yang kita lupa. Bahwa suatu saat suami pasti pergi. Anak-anak pergi. Dan kita kembali sendiri!” gumam ibu tua itu kembali tersenyum sendiri.

Di jendela, ibu tua menatap jauh ke halaman. Anak-anak bermain lumpur, berlempar-lemparan. Ada yang berkejar layang-layang putus. Di ujungnya, gunung Sago terhampar jelas. Waktu itu pun menyergapnya. Sesuatu yang bernama kenangan. Lembar-lembar di satu kurun yang disebut lampau. Ketika ia mengajak anak-anaknya ke sawah. Berjalan di pematang. Mengantarkan kawa (makanan dan minuman) untuk petani-petani yang mengerjakan sawahnya. Seraya tertawa-tawa mereka akan berebutan menangkap capung-capung merah dan belalang. Mereka bermain ke sungai. Mandi-mandi. Lalu makan bersama-sama dengan para petani. Dengan samba lado dan ikan asin yang dibuatnya di rumah. Lalu mereka pulang setelah senja. Setelah pelangi melengkungi hamparan sawah luas yang menguning. Ah, kenangan!

Ibu tua meninggalkan jendela itu. Ia kembali menuju almanak. Matanya tak lepas-lepas dari angka-angka tersebut seolah-olah ada satu harapan yang ingin digenggamnya. Sebentar lagi lebaran. Anak-anaknya akan pulang. Dan tentu bersama suami dan istri mereka serta cucu-cucunya. Kesunyiannya akan pecah. Gumpal lengang yang selama ini menyesak dada akan mencair dan mengalir. Ia harus bersiap untuk menyambut mereka. Ibu tua tersenyum puas. Sangat lepas.

”Upik, seminggu lagi mereka pulang. Tolong peram pisang yang ditebang kemaren. Etek Suni paling suka kolak dicampur lemang!”

”Jangan lupa minta jagung pada Pak Simuh. Pak Adang Kalun pasti minta jagung bakar!”

”Kita nanti akan buat samba lado tanak buat Etek Eti!”

”Oya, Upik. Juga pangek ikan buat Pak Etek Rustam!”

”Pical buat Pak Angah!”

Upik kadang bingung. Kadang ucapan-ucapan ibu tua sudah seperti orang meracau. Tapi bocah kecil itu mencoba memahami dengan usianya sendiri, betapa menggunungnya rindu yang menggumpal di diri ibu tua. Dengan patuh ia siapkan apa yang diminta oleh ibu tua.

Sementara sang ibu tua, segala sesuatu terhadap tingkah dan lakunya terlihat berlebihan. Beras yang masih ada di tambah. Takut nanti tidak cukup, katanya. Setiap hari ia bersihkan rumah. Debu-debu. Kain pintu ditukar dengan yang baru. Begitu juga dengan gorden dan taplak meja. Halaman dan perkarangan diupahkan untuk membersihkannya. Pagar rumah dicat. Ibu tua terlihat riang dan girang. Sebentar-sebentar ia melihat almanak. Sebentar-sebentar ia tersenyum. Sebentar-sebentar ia beralih melihat foto keluarga. Foto di mana mereka semua sedang tersenyum.

”Sunyi akan pecah dari rumah ini!” ucapnya seakan-akan baru saja memenangkan sebuah pertarungan panjang. Itu terlihat dari wajah keriputnya yang menjelma berseri-seri penuh kesenangan.

Jendela rumah gadang. Sebuah bingkai tempat menatap hari dan waktu. Keramain dan kesunyian. Keindahan dan kepahitan. Segala yang bernama masa lampau, hari ini, maupun jelang esok, akan tergambar sebagai sebuah potret. Refleksi dari sebuah perjalanan yang dititahkan oleh Tuhan. Dan setiap pergulirannya akan menjelma menjadi gambar kehidupan.

Tapi ibu tua mungkin lupa dengan gerak yang bernama perubahan. Ketika anak-anak, menantu dan cucu-cucu yang ditunggu-tunggunya pulang, ia sama sekali tidak melihat sunyi yang pecah. Tidak menyaksikan lengang yang cair. Tak ada yang mengalir ke muara. Hanya diam yang kejam. Justru yang ditemukannya adalah sebuah siksaan baru yang bernama keasingan.

Ia tidak mengerti lagi dengan bahasa anak-anaknya yang telah jauh bertukar. Dengan ucapan-ucapan mereka yang terdengar aneh. Kadang terdengar keras dan tidak sopan. Sikap dan tingkah laku mereka terlihat sangat berjauhan dengan kebiasaan orang-orang di kampung. Mereka telah mengusung kota ke rumah gadang ibu tua. Jantung ibu tua tertusuk. Pedih. Sangat pedih. Ia merasa rindunya telah menghantam kepalanya. Ia ingin menangis. Apalagi ketika mereka lebih memilih makan ke restoran ketimbang mencicipi masakan yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan ibu tua. Ia merasa dirinya limbung dan segera akan rubuh. Matanya berkunang-kunang. Panas.

Di jendela, sehari setelah anak-anak, menantu dan cucunya kembali ke kota, ibu tua tertegun menatap jauh ke halaman. Di belakangnya Upik diam tak berkata-kata. Dendang dari tape tetangga tak terasa mengiringi tetes tangis ibu tua yang titik menimpa selendang usangnya: Kalau dipikir-pikir benar. Luka hati jika tambah parah. Rendahlah ngarai dipandangi. Sebab selarut selama ini. Kalian tau apa yang membuat sedih. Dikira kalian datang mengobati. Berharap luka kan sembuh. Mengapa asam kalian siramkan. Tak ada lagi yang sesakit ini. Bila tak ingat Tuhan. Tentu lebih baik memilih mati.

Ibu tua mencoba tersenyum mendengar dendang tersebut. Dihapusnya airmata. Lalu menatap ke arah Upik.

”Upik, ketuaan adalah kesunyian. Serupa usia. Atau mungkin waktu yang juga sudah tua. Pada akhirnya kita memang tak akan dapat mengelak dari kesendirian. Rindu hanyalah sebatas keinginan. Apa pun selebihnya adalah milik Tuhan!” ucap ibu tua itu. Lalu menutup jendela. Dan senja pun turun di kampung itu.

Payakumbuh, September 2008.

05/08/2009

Malam Kunang-Kunang – Rama Dira

Merekalah bocah-bocah yang selalu bahagia. Jika malam tiba, mereka akan berlari-lari girang, mengejar-ngejar dan menggapai-gapai kunang-kunang yang berkerlap-kerlip melayang-layang serupa sebaran serbuk cahaya. Mereka jugalah bocah-bocah yang menghadirkan tawa dan canda di lembah itu hingga membuatnya hidup, terasa dihuni.

Selebihnya adalah gelap. Listrik belum masuk dan orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan urusan ranjang. Maka, belum genap malam, bocah-bocah pun diusir pergi ke luar rumah, ke surau untuk mengaji atau berlatih silat ke lapangan sepak bola asalkan jangan bermain kunang-kunang. Karena bagaimanapun, orang-orang tua tetap meyakini kunang-kunang sebagai jelmaan kuku-kukunya orang mati. Jika menjadikannya sebagai mainan, maka akan menyebabkan kesialan.

Untunglah sekumpulan bocah-bocah pencinta kunang-kunang ini mendapatkan pelajaran ilmu kehewanan di sekolah sehingga mereka tahu bahwa kunang-kunang tak lebih dari sejenis serangga yang bisa mengeluarkan cahaya yang akan tampak jelas jika gelap malam menyungkup dunia. Mengapa kunang-kunang bisa menghasilkan cahaya dan mengapa dengan cahaya itu tubuhnya sendiri tidak kepanasan atau terbakar, tentu juga bukan lagi menjadi rahasia bagi mereka.

Pak Guru Sadirun pernah menguak semua rahasia mengenai makhluk yang bernama kunang-kunang itu. Berdasarkan buku teks pelajaran, Pak Sadirun menjelaskan bahwa di dalam tubuhnya, kunang-kunang memiliki zat kimia lusiferin dan enzim lusiferase. Untuk menghasilkan cahaya, dua zat ini bercampur. Percampuran ini menghasilkan energi dalam bentuk cahaya. Cahaya itu pun sifatnya dingin, tidak mengandung ultraviolet dan sinar inframerah. Ia memiliki panjang gelombang 510 hingga 670 nanometer dengan warna merah pucat, kuning, atau hijau. Kunang-kunang termasuk dalam golongan Lampyridae yang merupakan familia dalam ordo kumbang Coleoptera. Ada lebih dari dua ribu spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia. Spesies ini dapat ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.

Maka, dengan berkah pengetahuan itu, bocah-bocah ini menjadi tak pernah khawatir dengan larangan orangtua mereka dan mereka tak pernah takut akan kesialan. Bagaimanapun, mereka tetap berlomba-lomba menangkap kunang-kunang. Siapa yang mendapat paling banyak akan dinobatkan sebagai Raja Kunang-kunang. Kesenangan dan kebahagiaan itu tak tergantikan. Hingga, akhir-akhir ini mereka pun tak lagi mendatangi guru mengaji atau guru silat mereka karena kunang-kunang memiliki lebih banyak pesona.

Untuk menghadirkan kunang-kunang, mereka biasanya mendendangkan berulang-ulang nyanyian kunang-kunang itu:

Hai kunang-kunang, datanglah, datanglah…..

Jangan malu-malu pada rindu malam-malam…..

Hai kunang-kunang datanglah, datanglah…..

Jangan ragu-ragu kami tunggu, kami rindu…..

Kunang-kunang sepertinya sudah begitu akrab dengan suara-suara itu sebab setelah nyanyian itu mengalir, sekumpulan kunang-kunang dari semak, dari pepohonan, dan dari mana pun akan melayang-layang menyatu menyerbu para bocah itu, merelakan diri untuk ditangkap tangan-tangan lugu, tangan-tangan milik makhluk yang tak punya hasrat membunuh, mereka yang hanya ingin bermain dan menikmati permainan masa kanak yang bukanlah lagi menjadi suatu bagian diri jika kelak mereka dewasa. Bagaimanapun, tangan waktu dan zaman akan berperan mengubah mereka.

Kunang-kunang yang tertangkap akan dikumpulkan di dalam botol masing-masing. Jika malam sudah genap dan embusan angin lembah mulai membuat kunang-kunang melayang tak tentu arah, maka mereka akan berhenti dan mulai menghitung hasil tangkapan mereka di pos ronda.

Tak ada yang bisa menyaingi rekor predikat Raja Kunang-kunang yang sudah dibuat oleh Yasser Arafat. Hampir selalu, bocah bertinggi badan melebihi sebayanya ini menjadi pengumpul terbanyak. Bagaimana tidak, dia memiliki jangkauan lompatan tertinggi. Dia juga yang paling kuat berlari. Pernah memang, predikat Raja Kunang-kunang menjadi milik Anhar Alifudin. Itu terjadi semata karena Yasser Arafat yang sakit tidak bisa ikut bermain.

Malam ini, Yasser Arafat berhasil mengumpulkan lima puluh kunang-kunang. Kontras dengan Baraq Syariati yang hanya mendapatkan lima kunang-kunang. Dengan badannya yang kecil, Baraq tak pernah mampu melompat lebih tinggi. Juga tak kuat berlari. Dengan begitu, dialah yang selalu menjadi pecundang sejati dan rutin menjalani hukuman dengan mencabut dan mengambil singkong dari kebun milik orang terkaya di dusun itu: Juragan Hussein Akbar.

Usai dihitung semua dan Raja Kunang-kunang sudah diketahui siapa, maka kunang-kunang kembali dilepas. Bocah-bocah bersorak dan kunang-kunang berkerlap-kerlip riang, merasa bangga sudah bisa menghibur sekaligus terhibur berkat tingkah bocah-bocah lugu itu.

Dingin mulai menusuk. Bocah-bocah mengembangkan sarung dan memakaikannya ke badan. Ranting-ranting kering dikumpulkan dan dibuatlah api unggun pengusir dingin di depan pos ronda. Setibanya Baraq Syariati yang membawa singkong-singkong dari kebun Juragan Hussein Akbar, mulailah mereka memanggang.

Kenyataannya, pos ronda yang sudah menjadi markas mereka itu tak pernah lagi digunakan. Orang-orang tua di lembah itu tak bisa setia menjalankan apa yang sebenarnya sudah mereka rancang sendiri. Jika mengharapkan partisipasi para pemuda, tentu tidak bisa sebab semua pemuda dari dusun itu merantau ke kota-kota. Giliran ronda untuk bapak-bapak memang pernah berjalan. Namun, karena dingin lembah itu tak tertahankan dan wajah istri selalu membayang, serta tak pernah ada peristiwa kemalingan, mereka pun tak lagi setia dengan kewajiban masing-masing. Fakta itu justru membuat bocah-bocah pencinta kunang-kunang ini senang. Mereka mendapatkan markas untuk rehat usai bermain.

Sehabis menyantap singkong panggang, tentu banyak angin yang harus dibuang. Dan, bocah-bocah itu menjadikannya sebagai bahan permainan selanjutnya, yaitu perang kentut. Kemenangan dan predikat sebagai Raja Kentut sama prestisiusnya dengan Raja Kunang-kunang. Bagaimanapun, penilaian tidak didasarkan semata pada bunyi yang dihasilkan, tapi juga pada bau yang mematikan. Jika kentutnya berbunyi keras dan berbau busuk, tak diragukan lagi dialah sang juara sejati. Untuk urusan yang satu ini, pemegang rekornya adalah Hang Jebad, bocah paling tua di kumpulan itu.

Biasanya, sehabis perang kentut, malam sudah larut sempurna. Bocah-bocah menyadari itu dan pulanglah mereka segera dan tidur lelap setibanya mereka di pembaringan.

Bocah-bocah pencinta kunang-kunang berkumpul seperti biasanya malam ini. Di sekitar tanah lapang, tak jauh dari semak. Mereka melantunkan dendang kunang-kunang, mengundang kunang-kunang untuk datang bermain bersama sebagaimana biasa:

Hai kunang-kunang, datanglah, datanglah…..

Jangan malu-malu pada rindu malam-malam…..

Hai kunang-kunang datanglah, datanglah…..

Jangan ragu-ragu kami tunggu, kami rindu…..

Meski telah diulang-ulang berpuluh-puluh kali, dendang itu tak sanggup mendatangkan kunang-kunang. Mereka menjadi heran. Setahu mereka, semenjak pertama mendendangkan nyanyian sekaligus mantra pemikat itu, ratusan kunang-kunang terindah dari segenap penjuru lembah selalu berdatangan. Namun, malam ini, semuanya terasa lain, tak ada kunang-kunang yang berkerlap-kerlip terbang mendekat. Maka, lembah itu pun benar-benar menjadi mati dan bocah-bocah itu, untuk kali pertama dirasuki kekecewaan. Apa yang terjadi? Apakah ada kumpulan bocah-bocah lain yang membuat kunang-kunang itu lebih tertarik mendekat ke sana? Bocah-bocah itu tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Malam makin pekat dan awan menghitam dan hujan pun tumpah. Bocah-bocah berlari-lari dalam hujan, berupaya menggapai pos ronda. Di pos ronda, dalam hawa yang dinginnya melumat tulang, bocah-bocah itu membuat diri senyaman-nyamannya dalam penantian. Hujan tampaknya tak segera habis dalam waktu dekat. Anak-anak memutuskan untuk tetap bertahan. Percuma juga mereka pulang di malam yang belum genap seperti sekarang karena pintu rumah masih rapat terkunci. Barulah dibuka kuncinya jika malam sudah larut dan orang tua mereka sudah menyelesaikan ritual hiburan ranjang.

Dalam hujan badai dengan angin yang merontokkan dedaunan itu, bocah-bocah itu mendengar derum sebuah truk yang tenggelam dalam tunggal nada hujan. Jauh dari sini, mereka bisa menangkap—meski tak begitu jelas—gerakan lamban truk itu di sana. Awalnya mereka mengira itu truk milik Juragan Hussein Akbar yang biasa pulang malam sehabis menjual hasil pertanian ke kota, tapi nyatanya bukan. Truk milik Juragan Hussein Akbar berwarna kuning. Meski dalam gelap, kuningnya tetap akan terlihat dari kejauhan. Tetapi, truk yang satu itu berwarna gelap dan tertutup tenda di bagian belakangnya. Tak berapa lama kemudian, truk itu berhenti di tepi jurang.

”Mungkin mesinnya mogok.”

”Mungkin bannya terendam lumpur.”

Mereka pun hanya bisa mengira-ngira apa yang melanda truk itu karena gelap kembali berkuasa setelah dua lampu sorot pada truk itu mati. Truk itu berhenti sekitar setengah jam lamanya di sana dan bocah-bocah pencinta kunang-kunang masih juga berteduh menanti hujan berhenti.

Kedua lampu pada truk itu hidup lagi dan truk itu bergerak perlahan meninggalkan tepi jurang kemudian berbelok di pertigaan, mengambil jalan ke arah kecamatan. Bocah-bocah itu hanya melihat kepergian truk itu dari kejauhan.

Beberapa jam sepeninggalan truk itu, hujan pun reda. Malam sudah larut dan bocah-bocah itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, mereka segera membatalkan niat itu setelah melihat kemunculan kerlap-kerlip kunang-kunang di sekitar tepi jurang, di lokasi berhentinya truk tadi.

Maka, bocah-bocah itu pun berlari riang ke arah kunang-kunang itu dengan segera. Semakin banyak kunang-kunang, semakin girang bocah-bocah. Satu hal yang pasti, kunang-kunang itu tampak tak banyak beranjak. Mereka hanya mengambang bertahan di atas jurang. Meski bocah-bocah sudah mendekat, tetap saja kunang-kunang tak terbang.

Setiba mereka di tepi jurang, bocah-bocah itu didekap rasa penasaran menyaksikan kunang-kunang yang semakin banyak bermunculan dari dasar jurang yang gelap. Bocah-bocah itu tak jadi menangkap kunang-kunang itu. Mereka justru turun ke dasar jurang demi memastikan apa yang ada di sana.

”Mungkin di sana ada kerajaan kunang-kunang.”

”Mungkin….”

Pelan-pelan, mereka menapaki jalan kecil menuju jurang yang licin dan basah. Sesampai mereka di dasar jurang, Baraq Syariati terjatuh. Ia tersandung sesuatu. Anhar Alifudin segera menyalakan senter. Gelap sedikit terusir dan mereka kini mengetahui bahwa Baraq terjatuh karena tersandung sesosok tubuh, sesosok mayat.

Serta-merta mereka dilanda kepanikan yang tak tanggung-tanggung karena tak hanya ada satu mayat saja. Di situ menumpuk banyak mayat dan sudah berbau busuk dan kunang-kunang indah pun semakin banyak. Mulanya kuku-kuku yang terlepas dari jari kaki dan tangan mayat-mayat itu mengambang untuk kemudian menjelma titik-titik cahaya, menjadi kunang-kunang yang indah rupa.

Tak bisa tidak, bocah-bocah itu pun berlari ketakutan meninggalkan jurang itu, meninggalkan tumpukan-tumpukan orang mati dengan luka-luka tembak itu, meninggalkan ribuan kunang-kunang dengan keindahan yang memesona, makhluk-makhluk baru yang menjelma dari kuku-kuku mayat-mayat yang dilemparkan begitu saja dari dalam truk tadi.

Maka, malam itu, wajah dusun kecil di lembah tersebut menjadi terang benderang sebab beribu-ribu kunang-kunang yang baru lahir berpesta dan inilah malam terindah milik mereka semata: malam kunang-kunang. ***

Tarakan, 25-26 Maret 2009

Dimuat di Kompas 08/02/2009