Rindu Kampung (dimana pucuk padi menari)


Jalan mengelok ke kanan menuju kampung seketika terbayang di mataku
Kampung tempat sejarah keluarga dimulai jauh bertahun lalu
Kampung dimana pucuk padi menari indah gemulai,
teriring angin sejuk membelai
dikelilingi bukit tinggi tak semampai

Bau anginnya kuhirup dalam bayang,
Ah aku rindu kampung halaman
Terbayang kelokan jalan,
Terbayang nenenda,
Nenenda Khadijah

Apa kabar nenenda sayang?
Semoga sehat…
semoga sehat nenenda,
Kupeluk cium dari sini

Ah… perasaan ini begitu sentimentil, nenenda

Aku rindu nenenda..
Rindu nenenda Khadijah
Rindu kampung halaman
dimana pucuk padi menari lemah gemulai

Leave a Comment

Filed under Ngalor Ngidul

Pesta Para Supporter (Hidup Timnas Indonesia!)

suami saya 'ebit' saat mendukung timnas Indonesia ketika melawan Filipina di GBK 20 Desember, gembira sekali! :D

Saya bukan orang yang gemar menonton pertandingan sepakbola. Sama sekali tidak. Justru sebal jika televisi di rumah dimonopoli oleh pertandingan bola. Bahkan saya tidak mengerti mengapa beberapa teman wanita saya begitu ‘nge-fans’ dengan pemain bola.
(Saya sendiri sudah saklek ‘nge-fans’ sama rocker soalnya :p )

Pertandingan piala AFF ini begitu menyita perhatian orang banyak. Mayoritas status di Facebookpun saya lihat berisi tentang pertandingan bola, bola dan bola. Gol satu kali, update status. Ada pergerakan sedikit -baik kecurangan atau yang lain yang saya tidak paham-, kembali ‘update status’.

Kemudian saya sendiri pada akhirnya terseret euphoria pertandingan piala AFF kali ini. Kata-kata timnas dan nama-nama yang sebelumnya tidak saya kenal seperti; Markus, Bachdim, Bepe, Gonzales mendadak akrab di telinga saya.

Sekali waktu saat pertandingan final leg pertama di Bukit Jalil, Malaysia berlangsung, saya melihat status Facebook saudara dan teman-teman saya yang memprotes tindakan supporter negara tetangga kita yang mengesalkan.

Saya pun kemudian duduk di depan televisi mengikuti jalannya pertandingan. Sejak menyimak beberapa pertandingan yang sudah berlalu, saya berharap timnas Indonesia akan memenangkan setiap pertandingan hinggal final nanti. Pada pertandingan di Bukit Jalil pun saya sangat yakin Indonesia akan menang.

Dugaan saya meleset!. Timnas dikalahkan dengan skor 3-0. Benar-benar meleset. Saya cukup sedih juga, emosi saya mulai terlibat sepertinya :p .

Hal yang mengecewakan buat saya bukan hanya pertandingan ini dimenangkan oleh pihak lawan, namun saya melihat di layar kaca beberapa supporter yang (mungkin sekali) merasa kecewa satu persatu mulai beranjak meninggalkan tempat duduknya. Dalam hati saya berkata,’bukan begitu, seharusnya bukan begitu…’.

Kekompakan rakyat Indonesia saat mendukung timnas pada piala AFF kali ini benar-benar menbuat saya takjub. Saya sendiri ‘ngarep’ kekompakan ini akan awet untuk hal-hal lainnya guna kemajuan bangsa Indonesia (kalimat saya mulai seperti yang ditulis dalam buku-buku pelajaran sosial itu ya :p).

Tapi ternyata harapan sayapun tak bisa bertahan lama ketika melihat para supporter meninggalkan tempat duduknya saat timnas kalah di Bukit Jalil, padahal pertandingan belum benar-benar usai. Bukan begitu menurut saya seharusnya sikap para supporter.

Saya pikir para pemain timnas tentunya sangat terbebani dengan euphoria dan harapan yang tinggi dari orang banyak, lalu mereka tentunya terganggu dengan sikap supporter negara tetangga itu. Saya tidak mau sok tahu, tapi bisa jadi personil timnas merasa kecewa ketika supporter tidak lagi mendukung mereka untuk terus bersemangat saat sudah tertinggal skor di Bukit Jalil.

Seharusnya para supporter tetap tinggal di tempat,bersemangat menyemangati timnas semeriah mungkin, berapapun skornya!. Tetap di tempat sampai pertandingan benar-benar usai. Terus menyemangati timnas saat trtinggal skor sekalipun. Begitu menurut saya seharusnya kalau memang setia dengan timnas, kalau memang berniat mendukung timnas.

Seperti yang dikatan E.S. Ito dalam blognya, sepakbola harusnya memang menjadi kegembiraan. Jadi saya pikir tak usahlah ditiru sikap menyebalkan supporter negara tetangga kita. Supporter kita, supporter bangsa yang besar, yang dulu (dan mudah-mudahan masih) bercita-cita menjadi bangsa yang bermartabat. Saya tak pungkiri pembalasan mungkin memang menyenangkan. Tapi sekali membalas dengan cara yang sama menyebalkannya saya rasa belum tentu akan puas. Malah membuang-buang energi yang harusnya bisa digunakan untuk hal-hal penting lainnya.

Saya sendiri tersenyum melihat seorang customer yang saya layani di kantor hari ini datang dengan mengenakan jaket berwarna dominan merah dengan lambang Burung Garuda di dada kiri. Dia bersenandung lagu Garuda di Dadaku yang tengah sering dinyanyikan. Pada bait ‘kuyakin hari ini pasti menang’ dirubahnya menjadi ‘kuyakin kalah menang pasti senang’. Betapa hebatnya sikap positif yang dia pancarkan.

Saya kira saya sudah menemukan salah satu supporter sejati timnas Indonesia, seorang kurir sebuah forwarder bernama Herry Firmansyah. Betapa senang saya mendengar bait lagu yang dia nyanyikan. Saya rasakan kegembiraan yang dikatakan E.S ITO dalam bait itu.

Beberapa jam lagi pertandingan akan dimulai. Mari semua mendukung sepenuh hati tim kebanggan negeri ini. Diam di tempat dan berharap yang terbaik sampai pertandingan benar-benar usai. Mari semua, mari bergembira bersama! Dukung tim negeri kita! :D

2 Comments

Filed under Ngalor Ngidul

K U D E T A !


aku berani bertaruh,
para jasad yang sudah sekian puluh tahun akan menangis meronta-ronta
jika diperkenankan oleh-Nya

betapa sakitnya sampai kepada urat-urat yang halus sekalipun

karena hati sudah tak bisa menanggung segala kecewa

aku berani bertaruh,
para jasad itu akan segara keluar jika diperkenankan oleh-Nya
untuk semalam saja segera melakukan kudeta
mereka keluar dengan air mata darah dan teriakan perih yang menganga memamerkan luka terdalam

‘KUDETA! KUDETA!’, teriak jasad-jasad pucat itu dengan keberanian segagah gunung-gunung yang menjulang tinggi di penjuru negeri

‘KUDETA! KUDETA!’, jasad-jasad bergegas sigap, sepakat bulat menyelamatkan ini bangsa

jasad-jasad itu tapi cuma terkulai
marahnya mereka titipkan pada letupan gunung

air mata mereka titipkan pada banjirnya sungai

‘Jangan dijual, nak! Negeri ini punya kita!’

pinta mereka yang dititipkan pada angin yang meniup lembut paras generasi yang masih hidup,
berharap tak pekak telinga orang-orang yang menerima kemerdekaan dengan cepat saji.

tapi aku tak perlu bertaruh untuk air mata yang sudah mengalir sederas aliran sungai, itu sudah ada… sekarang. Sejak singkong bukan jadi makanan kegemaran lagi.

*dibuat dengan sedih (sekali) ketika mendengar orang-orang bercakap-cakap tentang aset-aset negara yang dijual… :’-(*

2 Comments

Filed under Ngalor Ngidul

Karena Sabar Tak Sesederhana Ongol-Ongol

http://resepmasakanhalal.blogspot.com/Beberapa hari yang lalu saya begitu sebal, sing suer saya sebal! Apa pasal?
Beberapa hari yang lalu itu saya lembur sampai sekitar jam delapan malam. Waktu saya mau beranjak pulang, saya dan rekan kerja memeriksa apa-apa yang harus kami lakukan sebelum meninggalkan kantor.

Lampu sudah dimatikan, hanya sebagian yang dinyalakan sebab masih ada rekan di bagian lain yang masih bekerja. Celingak-celinguk sana sini takut ada yang tertinggal, saya sedikit terkejut melihat serenceng kecil kunci menggantung pada sebuah pintu yang terbuka menuju salah satu ruang kerja . Oh oh, lupakah si karyawan yang bekerja di ruangan itu untuk mengambil kunci tersebut? Mengapa tidak di kunci? Bukankah ruangan ini adalah salah satu ruangan yang menyimpan begitu banyak uang perusahaan dan benda berharga lainnya?

Serta merta saya mengunci pintu ruang tersebut demi kemanan. Kunci saya letakkan di laci meja saya, yang sangat sangat mudah diambil namun tidak langsung terlihat oleh mata.
Saya juga menunjukkan letak kunci itu pada rekan yang sedang bersama saya bersiap-siap untuk pulang.

Di luar dugaan, keesokan harinya kepala saya terasa pening, pandangan berputar-putar. Maka saya memutuskan tidak pergi ke kantor. Saya pun tertidur setelah memberi kabar pada atasan saya bahwa saya tidak masuk, dan dengan sms yang menggantung belum selesai ditulis kepada rekan kerja saya yang lain (bukan yang saat itu bersama saya lembur) mengabarkan bahwa saya menyimpan kunci salah satu ruangan di laci meja komputer saya.
Antara kantuk dan tidak saya mengirimkan sms tersebut.

Alhamdulillah, keesokan harinya lagi, pening di kepala saya pulih. Saya berangkat ke kantor seperti biasa.
Beberapa saat setelah duduk dan menjawab sapaan dan pertanyaan rekan dan atasan, seseorang menyampaikan (selanjutnya kita sebut Pak Dodo) ,”Hei, waktu itu kunci kamu yang simpan …”, saya potong omongannya dan sambil menunjuk ke rekan lain-sebut saja Andri-(tanpa bermaksud tidak sopan, karena kami biasa bercanda, termasuk bercanda yang agak ketus :p-), “sudah dibilang tempatnya ke dia, Pak!”

Andri malah tertawa dan tersenyum-senyum seperti biasa, “Mbak, kemarin sakitnya terasa waktu mau berangkat ya?’. “Iya.’ jawab saya singkat.

Pak Dodo kemudian mulai tertawa-tawa sedikit salah tingkah, “Si Andri belum selesai ceritanya, tapi… ini jangan dijadikan penghalang untuk berbuat baik ya… ternyata tidak setiap perbuatan baik itu mendapat respon yang positif.”, begitulah kira-kira kalimat yang dikatakan Pak Dodo. Mulailah saya bingung, ‘ini ada apa sih sebenarnya?’.

Singkat cerita, ternyata saat saya tidak masuk tersebut, beberapa (atau malah hanya seorang?) rekan mengomel karena pintu masuk ke ruang kerja mereka terkunci sehingga mereka tidak bisa langsung masuk. Disangka ada seseorang yang mempermainkan mereka dan sampai terucap ‘siapa sih nih yang ngumpetin? Disumpahin sakit deh!”, kurang lebih begitu umpatannya. Kuping saya panas mendengarnya, mulailah saya mengomel sendiri ‘ya kalau begitu jangan digantung dong kuncinya!, hu uh,! Sebalnya saya waktu itu. Niat saya mengamankan ruangan tersebut malah mendapat tanggapan yang berbeda, disumpahi sakit pulak!.
Mungkin saya salah menganggap bahwa fungsi ruangan itu juga untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Lagipula saya kan refleks, tidak sempat tanya-tanya itu ruangan perlu dikunci atau tidak, terlebih sudah tidk ada siapa-siapa disitu (pembelaan nih ceritanya :p).
Saking sebalnya saya sampai beristighfar dan berta,awudz. Hush… hush… pergilah setan! Jangan tiup-tiup supaya jadi amarah saya jadi lebih besar (lagi-lagi mengkambing hitamkan setan, kan setan di bulan Ramadhan ini diikat bukan? :D ).

Saya tidak berpikir sakit saya yang timbul tempo hari lalu karena sumpah serapah si ‘entah siapa dia ‘ yang bekerja di ruangan itu, saya pun emoh mencari tahu, nanti saya malah benci atau sebal sama si ‘entah siapa dia’. Lebih-lebih memang sakit saya sudah timbul ketika subuh. ‘Do’a jelek tak didengar Allah!’, batin saya.

Memang susah sekali untuk bersikap sabar dan ikhlas, tidak sesederhana membuat ongol-ongol (eits, siapa bilang bikin ongol-ongol gampang ya, saya yang tidak bisa masak ini sok tau sekali, :p ), tapi bukan berarti sikap tersebut ditinggalkan.

Kembali kalimat itu melintas di kepala saya ‘orang sabar disayang ALLAH’, ah senangnya orang yang bisa bersabar.

:)

Leave a Comment

Filed under Ngalor Ngidul