10/12/2009

Pernikahan Rustam

Apa yang paling susah kau telan? Jawabannya, rasa perih. Ia seperti tersangkut di tenggorokanmu, ditelan tak mau, dimuntahkan tak bisa. Menyangkut saja di tenggorokan, kau telan ludah berkali-kali karenanya, tapi tetap saja ia bertengger disana, seolah menyumbat tenggorokanmu. Rasa perih yang tersangkut itu membuat nafasmu naik turun sedikit cepat, membuat dadamu sesak, ditambah bonus air mata yang menggenang di matamu yang terkadang setengah mati kau tahan supaya tidak jatuh demi sebuah harga diri.

Seperti saat ini, seperti yang dirasakan Rustam saat ini. Tenggorokannya terasa sangat sakit, terganjal perih. Perih yang membuatnya menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan bonus genangan air mata yang kusebut tadi. Dadanya sesak.

“Maafkan Bapak ya Rus…”, ujar bapak si Rustam lirih.

Di ruang tamu sekaligus ruang keluarga yang kecil itu Rustam tertunduk lama, ingin rasanya dia berteriak dan menangis berguling-guling, tapi tidak…, sekuat tenaga Rustam menahan perih di tenggorokannya dan membuat suara yang dibesar-besarkan.

“Tidak apa-apa, Pak!”, jelas tidak berhasil, karena yang keluar adalah suara besar yang bergetar.

Dari balik tirai lusuh sebuah pintu kamar tak jauh dari situ seorang pemuda tanggung usia tengah menguping, berdebar menunggu nasibnya, berdebar menunggu kelanjutan kalimat dua orang yang dituakannya di rumah itu.

“Adikmu nilainya bagus Rus, sayang kalau tidak diteruskan sekolahnya. Bapak sudah berusaha cari pinjaman, tapi kebanyakan orang-orang juga butuh biaya setiap tahun ajaran baru ini. Bapak terpaksa pinjam sama kamu Rus, uang Bapak tidak cukup.”, kali ini bapak si  Rustam yang bersusah payah melontarkan kalimat demi kalimat, perih itu mulai meremas tenggorokannya.

“Saya ada uang pak, cukup untuk biaya pendaftaran sekolah Ramlan dan keperluan dia yang lain. “

“Bapak pinjam ya Rus, nanti Bapak ganti…”

“Bapak tidak usah pikirkan, sudah jadi kewajiban saya juga. Ramlan adik saya, dia harus terus sekolah, Pak. Harus! Saya mau mandi dulu ya, Pak!”, Rustam berusaha menguasai dirinya sebaik mungkin untuk menutupi rasa perihnya, tak lama punggungnya hilang di balik sebuah pintu.

Bagaimana tidak perih, si Rustam ini hendaknya berencana akan melamar Hamidah, kawan semasa sekolah dahulu. Sudah hampir dua tahun ini Rustam menabung termasuk untuk biaya pernikahannya kelak, dan ketika ‘pernikahan yang kelak’ itu sudah hampir tercium wanginya, sudah sampai manisnya di ujung lidah untuk dikatakan kepada bapaknya, mendadak semua hilang. Hilang begitu saja.

Tadi pagi saat bangun dari tidur, dengan hati berdebar dan penuh semangat, Rustam merancang rencana untuk berbicara empat mata dengan bapaknya, rencana melamar Hamidah. Sudah disusun kata sedemikian rupa. Kata-kata yang santun, sederhana dan jelas maksud serta tujuannya. Kata-kata untuk meminta ijin dan meminta dukungan bapaknya melamar Hamidah. Tak lamalah merancang kata-kata itu, karena Rustam sendiri memang pemuda santun yang tak banyak celoteh dan tidak suka membuat urusan menjadi panjang, ditambah pada waktu-waktu sebelumnya Rustam sudah pernah menyampaikan pada bapaknya perihal kedekatannya dengan Hamidah.

Tapi jelas sudah apa jadinya sekarang, semua rencana Rustam buyar dalam sekejap. Kini, di rumah kecil itu ada tiga laki-laki yang menanggung pedih di tenggorokannya. Bapak si Rustam, karena memikirkan biaya hidup keluarganya sejak bertahun-tahun lalu. Rustam, karena harus mengubur keinginannya melamar Hamidah, dan Ramlan adik Rustam yang memikirkan kelanjutan masa depannya, pupuskah kini cita-cita?. Perih di tenggorokan yang susah ditelan itu sudah berulang-ulang kali jadi santapan pahit di rumah mereka. Entah ini perih yang keberapa kali, tapi setiap datang perihnya tidak berkurang. Perih yang acap kali datang hanya karena masalah uang.

*****

Tiga hari kemudian Rustam mendapat undangan pernikahan dari Asnan, kawan semasa SMP dulu yang tinggal di kampung sebelah.

“Kapan kau menyusul, Rus?, Tanya Asnan dengan wajah yang bersinar-sinar.

Seketika gurat wajah Rustam berubah muram. Tak dapat menahan rasa ingin tahunya, Asnan bertanya perihal perubahan air muka Rustam, maka berceritalah ia.

“Ah, Rustam! Kiranya memang patut kita bertemu!, girang betul wajah Asnan.

“Mengapa kiranya, As?”

“Kau tahu, bagaimana aku bisa menyelenggarakan syukuran pernikahanku?”

“Ha?”, melongo Rustam karena tak mengerti arah pembicaraan Asnan.

“Beginilah ceritanya, Rus! Aku ini sudah lama sekali hendak menikah dengan calon istriku. Tapi apa daya, uang yang terkumpul selalu terpakai untuk kebutuhan ini dan itu, dan ini dan itu dan ini dan itu tiada habisnya. Sehingga tak pernah cukup saja uang tabunganku untuk membiayai pernikahanku. Tak jadi-jadilah aku menikah! Memberengut pula calon istriku, tak senang pula hatiku. Kemudian seorang saudaraku yang bekerja di sebuah Bank memberi kabar, bahwa di Bank tempat ia bekerja dan beberapa Bank yang ia ketahui di kota ini menyediakan pinjaman lunak bagi pasangan yang hendak menikah!”

“Ah, bercanda kau As!”

“Seriuslah aku ini, Rus!”

“Bunganya pasti tinggi!”

“Sudah kukatakan tadi, pinjaman lunak! Seperti ikan Bandeng yang dipresto! Lunak!”, yakin Asnan kepada Rustam.

“Syaratnya pasti banyak!”

“Kutambahkan kalau begitu. Lunak dan mudah!”. Mengangalah Rustam.

“Beri tahu aku bagaimana caranya, As!”. Sibuk Asnan kemudian menjelaskan semuanya kepada Rustam,

“Besok kuantar kau lah, Rus!”

“Benarkah?”

“Benarlah!”. Senyum Rustam pun mengembang dari Sabang hingga Merauke.

*****

Keesokannya pagi-pagi sekali Rustam berbicara dengan Bapaknya, perihal pinjaman lunak dari Bank itu.

“Benar begitu, Rus?”, tanya Bapak Rustam.

“Kita lihat saja nanti, Pak. Semoga saja begitu, hari ini Asnan hendak mengantarkan aku ke Bank.”

“Kalau begitu…”

“Seandainya memang begitu, Pak. Maukah Bapak melamarkan Midah untukku?”

“Pasti, nak. Pasti!”

Diciumnya tangan bapaknya seketika. Mata bapak si Rustam berkaca, dipeluknya anaknya sekuat yang dia bisa.

Waktu Rustam berlalu, bapaknya berdo’a sedalam-dalam hatinya. Semoga segalanya menjadi mudah.

Asnan sudah menunggu Rustam di tempat mereka berjanji bertemu, kemudian bersama mereka menuju sebuah Bank tempat Asnan mengurus pinjaman lunak untuk pernikahannya minggu depan.

Gugup Rustam berurusan dengan petugas Bank, untunglah Asnan menemani. Terbayang oleh Rustam bunga yang besar, persyaratan yang rumit. Lima belas menit berlalu, petugas Bank yang ramah menjelaskan produk pinjaman lunak untuk pernikahan itu dengan tenang dan jelas. Hilang kegugupan Rustam, tangannya yang semula dingin mulai menghangat. Kurang dari satu jam Rustam dan Asnan keluar dari pintu bank dengan wajah-wajah cerah.

Tanpa diduga Asnan, di pelataran parkir Bank yang sedang ramai Rustam berlari kencang kemudian melompat setingi-tingginya sambil berteriak,

“MIDAH, AKU PADAMUUUUUUUU!!!”

*****

(Ditulis untuk disertakan dalam sebuah sayembara bertema ‘aku dan bank’ dan… tidak menang :p)

06/11/2009

Kemana Afifah?

Kemana Afifah?
Bertahun sudah tak jumpa
Sekelebat pun tak kulihat
Sebaris kabar jua tak sampai
Tapi Afifah masih duduk-duduk dalam benakku
Setiap hari, selama hidupku…
Sejak saat itu, sampai saat ini

Afifah bertutup kepala merah muda dengan baju bernada sama,
Itu nyata yang kuingat
Lesung pipi
Kulitnya putih bersih
Tersenyum manis sekali
Tulus sekali
Belum pernah lagi kujumpa gadis secantik dan setulus Afifah
Belum pernah…

Afifah seperti perpanjangan tangan dari Ibu
Afifah seperti utusan Malaikat
Afifah memperkenalkan Rakib dan Atid
Afifah mengajarkan jangan berkata yang tidak baik
Afifah tidak dibuat-buat
Afifah tulus
Tak pernah kudengar berita buruk tentangnya
Jangan sampai…

Afifah, kurasa aku meng ‘ibu peri’ kan kau tanpa sengaja selama ini
Bukan maksudku Afifah
Tapi kau duduk-duduk di dalam kepalaku,
Seolah marah… seolah senyum
Berganti-ganti dengan hari seperti mengawasiku

Kemana kau Afifah?
Terakhir kuingat kau dan gaun pengantin
Melangkah ringan menawarkan penganan

Aku tak pernah bercakap-cakap denganmu dulu, masih terlalu kecil…
Yang kuingat saat kau bercakap denganku penuh senyum,
Aku hanya menganga menatap Afifah

Kurasa jika pemuda bertemu Afifah,ingin rasanya meminang
Namun sekaligus segan…
Afifah seperti nama moyangku;
‘Elok Kato’
‘Elok Bunyi’

Afifah nan elok
Begitu pantas kata itu untukmu

Kemana kau Afifah?
Adakah kita jumpa lagi kelak…?
Mari kita nyanyikan kembali lagu yang dahulu
Bersama kita bergembira,
Bergembira di taman kanak-kanak……

“taman yang paling indah,hanya taman kami
taman yang paling indah, hanya taman kami
tempat bermain berteman banyak
itulah taman kami taman kanak-kanak”

22/09/2009

Penjual Kenangan

Kalau kau berjalan-jalan ke pasar itu, coba tengok di pojok. Ada rumah mungil berwarna putih, bentuknya manis, sederhana saja, dengan dua jendela kaca di kanan dan kiri dengan pintu berwarna senada diantaranya. Bebungaan tumbuh tertata rapi di halaman. Rumah itu bukan sekedar rumah tinggal, namun ia juga sebuah toko. Tidak ada papan nama yang besar untuk toko itu, hanya papan kayu kecil bertuliskan ‘jual kenangan’.

Tidak seperti di kios-kios yang lain di pasar, terutama kios sembako yang selalu penuh dengan pembeli, toko mungil dan sekaligus rumah yang asri itu tampak sepi, hanya satu dua orang yang nampak keluar masuk pintu.
Tapi selalu saja ada yang datang, hampir setiap hari, yang datang biasanya melongok-longok kaca jendela depan, menarik lonceng kecil bermodel kuno yang tergantung di sebelah kanan pintu. Kemudian akan dipersilakan masuk oleh si empunya toko.

Wajah-wajah yang keluar masuk toko itu diam-diam mencuri perhatian orang-orang di sekitar, para pedagang kios, para pembeli, tukang ojek, penjual bunga, pedagang kue. Semua kerap mencuri lihat. Kadang tanpa sengaja menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala dagangan tidak terlalu laku, seraya menebak-nebak apa yang terjadi di dalam rumah itu.

Perempuan dan laki-laki yang datang biasanya mencari kenangan cinta di masa lalu, tidak hanya sepotong, tapi bergudang-gudang kenangan dibongkar disana. Ternyata orang terkadang begitu rakus pada kenangan. Beberapa keluar toko sambil tersenyum, ada yang murung, sekali dua perempuan terlihat bergegas sambil mengusap air mata, ada juga yang tertawa terbahak-bahak.
Pejabat mencari kenangan masa jayanya, orang tua mencari kenangan masa kanak-kanaknya, masa remajanya juga tak ketinggalan ditengok. Veteran, guru, pegawai, mahasiswa, artis ibu kota, hampir semua, hampir semua orang di kota itu mencari kenangan yang tercecer… datang dan pergi dalam diam. Termasuk orang-orang yang ditinggal dan pergi meninggalkan.

Di rumah yang menjual kenangan itu tinggal seorang laki-laki hampir separuh baya dengan seorang pemuda tanggung usia. Sesekali terlihat anak dan bapak itu bercakap-cakap di sore hari, sambil mengurus kebun bunganya, tak jarang sambil minum teh dan bernyanyi-nyanyi, terkadang lagu keroncong atau melayu seperti keinginan si Bapak, terkadang lagu masa kini seperti keinginan si anak yang bermain gitar. Hanya berdua saja, berdua.

Keberadaan toko itu diketahui dari desas desus saja, tidak diiklankan di koran atau selebaran apalagi di televisi. Dari mulut ke telinga, ke mulut lagi lalu ke telinga, beberapa berita tentang toko itu kemudian sampai ke pikiran lalu ke hati, bila sudah sampai ke hati, beberapa orang akan mencari toko itu.
Tidaklah sulit mencarinya, karena tidak banyak toko yang menjual kenangan.
Namun tak jarang yang ragu untuk melangkahkan kaki ke dalam, hanya tepekur di depan pagar yang rendah berwarna putih, menatap lekat-lekat papan kecil bertuliskan ‘jual kenangan’, terkadang ada yang berbalik arah, tidak jadi masuk, namun beberapa hari kemudian datang kembali.

Suatu sore datang seorang laki-laki berusia sekitar setengah abad.
Laki-laki itu mematung di depan pagar putih, di depan halaman nan asri. Ia menimbang-nimbang, apakah jadi kulongok sedikit kenangan itu? apa Ia punya kenangan yang kucari? Apa benar seperti yang dikatakan orang-orang, toko ini memang menjual kenangan? Bagaimana kenangan bisa dijual?

Ragu laki-laki itu melangkahkan kakinya ke halaman rumah tersebut. Sampai di depan pintu, Ia menarik nafas dalam-dalam. Baru saja Ia mengangkat tangannya untuk menarik lonceng, tiba-tiba pintu terbuka, kedua laki-laki itu terkejut.

“Ah… cari siapa?” tanya si penjual kenangan.
“Maaf, tapi.. apa betul tempat ini… “
“Menjual kenangan?”, potong si empunya rumah.
“Ya..”, sahut pengunjung toko pelan.
“Ya, saya menjual bermacam-macam. Macam-macam barang yang saya temukan selama dalam perjalanan saya ke sana kemari!”
“Macam-macam barang?”
“Ya barang… ah duduklah…”
Laki-laki penjual kenangan itu masuk ke dalam rumahnya yang mungil, tak lama Ia datang bersama pemuda yang tinggal bersamanya dengan dua gelas kosong dan seteko besar limun dingin.

Pemuda menuangkan limun ke dalam dua gelas bening, titik-titik air kemudian muncul pada sisi gelas, terlihat nikmat dan sejuk sekali di sore yang gerah.
Kemudian pemuda tanggung itu masuk ke dalam.

“Silahkan…”.
Tamu mengangguk, kemudian mereka berdua meneguk minuman itu dengan cepat.
“Panas sekali hari ini bukan?” tanya penjual kenangan.
“Iya, mungkin akan turun hujan”
“Biasanya begitu.”

Si tamu memandang halaman rumah yang penuh dengan bunga warna warni.
“Anda senang tanaman rupanya”.
Penjual kenangan tersenyum, “Mereka itu seperti teman bagi saya, kadang menyenangkan, kadang luka pula dibuatnya.”
“Ya…”, sahut si tamu sambil tetap mengagumi halaman mungil nan asri tersebut.

“Jadi maksud kedatangan anda…”
“Ah begini, saya mendengar bahwa disini menjual….”, ragu dia meneruskan
“Kenangan?”
“Ya, kenangan.” lanjutnya sambil sedikit meringis.
Penjual kenangan terkekeh melihat tamunya.
“Ya saya menjual kenangan, apakah anda sedang mencari kenangan anda?”
“Apakah anda punya kenangan milik saya?”, tanyanya sedikit terkejut.
“Saya tidak tahu, begitu banyak kenangan tercecer disana sini dalam perjalanan saya yang kesana kemari.” Ia mengambil pipanya, menaruh sedikit tembakau, kemudian membakar lalu menghisapnya dalam-dalam. Asap bulat mungil keluar dari mulutnya yang berjanggut putih.

“Saya tidak tahu itu kenangan milik siapa saja, tapi saya mengambilnya, karena saya pikir… ada saja orang yang akan mencarinya kembali, dan jika kenangan itu sengaja dibuang, saya pikir saya akan mencegahnya berpapasan lagi dengan pemiliknya, kebanyakan itu adalah kenangan buruk, buruk bagi si pemiliknya tentu. Bagi saya tidak, jadi saya tidak merasa terganggu menyimpannya.

“Lalu untuk apa kenangan buruk itu anda simpan?”
“Kadang saya pelajari, mmm… kenapa kenangan itu bisa menjadi begitu buruk bagi seseorang.”
“Apa yang anda dapat?”
“Haha, kebanyakan bagaimana cara kita bersikap atau memandang sesuatu saja, tapi saya tidak tahu jika saya di posisi si pemilik kenangan, mungkin saya akan bersikap sama dengan mereka. Jadi anda mau mencari kenangan anda atau tidak?”
Tamu mengangguk.
“Mari, kalau begitu saya antarkan.”
“Sebentar… berapa biayanya?”
“Biaya?”
“Iya, biaya untuk membeli kenangan saya, apabila kenangan saya memang ada di dalam”

Penjual kenangan tertawa terkekeh, diteguknya limun dingin yang masih tersisa di dalam gelas.
“Tidak usah dibayar. Gratis!” katanya mantap.
“Ha? Bagaimana bisa begitu? Di papan itu tertulis menjual kenangan, bukan membagi kenangan.”, si tamu bingung.
“Anda menolak?”
“Bukan, hanya…”
“Seringnya orang memang mempersulit diri sendiri bukan? Kebanyakan mengagumi barang mahal yang mengilap daripada barang obral atau gratisan yang mungkin fungsinya masih sama hanya tampilan luarnya lebih kusam…”, penjual kenangan itu tertawa terkekeh sambil mengintip dari balik kacamata bacanya.
“Tapi kenapa….?”
“Kenapa? untuk memikat orang tentu, seperti kata saya tadi, kebanyakan orang lebih suka membeli daripada diberi, termasuk saya kadang. Jadi kata menjual itu untuk pancingan.” seringainya.
“Lalu apa keuntungan anda?”
“Saya cuma ingin mengosongkan sedikit gudang kenangan yang saya punya. Sudah terlalu penuh, berisik! Lagi pula bukan semuanya kenangan itu milik saya atau kerabat saya.”
“Hanya itu?”
“Hanya itu, jadi…?”, si penjual kenangan membentangkan tangannya mengarah ke pintu masuk rumahnya. Si tamu terlihat canggung, mengikuti penjual kenangan masuk ke dalam.

Sejuk terasa di dalam rumah itu, sejuk bukan buatan pendingin ruangan. Mereka terus berjalan ke bagian belakang rumah, melintasi ruang keluarga. Sesaat sebelum berlalu, penjual kenangan menyapa pemuda yang tengah bermain video game.

Penjual kenangan dan tamunya tiba di satu ruangan, tidak terlalu besar, bersih, barang-barang tertata rapi di ruangan itu.
“Silahkan, carilah kenangan anda.”, ujar penjual kenangan tersenyum ramah.
Si tamu serupa bingung wajahnya, bagaimana mencari kenangan di dalam ruangan ini?.
“Cari saja, kebanyakan orang pertama kali akan bingung.”
“Saya memang bingung, bagaimana mencari kenangan di sini? Cuma ada barang-barang yang…”
“Yang kebanyakan sepertinya cuma sampah?”
Si tamu terdiam, takut menyinggung perasaan si penjual kenangan. Senyum terkembang tak lepas dari wajah si penjual kenangan,”Kenangan seringkali memang buram bukan? Karena memang bukan barang baru.”
“Tapi bagaimana saya bisa tahu kenangan saya ada disini?”
“Ada berapa banyak kenangan anda?”
“Banyak…”
“Yang anda cari?”
“Ah…”
“Santai sajalah, duduk-duduk dengan tenang. Anda boleh menyetel radio atau piringan musik lama milik saya. Nanti akan ketemu sendiri apa yang anda cari, mungkin…. . Saya tinggal dulu.” Penjual kenangan berlalu menutup pintu.

Si tamu kemudian duduk bersila diatas karpet dengan motif kotak-kotak berwarna warni, di sebelahnya sebuah meja kecil menopang sebuah radio kaset. Meja di tengah ruangan yang berukuran lebih besar diletakkan sebuah pemutar piringan hitam.
Tamu itu perlahan bangkit dari duduknya, menghampiri koleksi piringan hitam milik penjual kenangan. Tersenyum-senyum si tamu memandang koleksi piringan hitam itu, dipasangnya sebuah. Lagu mengalun, tamu itu menarik nafas dalam, senyumnya makin mengembang, ah…. puluhan tahun lalu seolah terasa hadir kini.

Tamu itu kemudian teringat bahwa dia harus mencari kenangannya, kenangan yang membuatnya datang jauh-jauh dari luar kota. Bagaimana mencarinya? Si penjual kenangan mengatakan bahwa ‘nanti juga akan ketemu’? Apa di ruangan ini ada katalog kenangan? Apa di setiap kenangan tercantum nama pemiliknya? Apa? Bagaimana? Dimana?, di ruangan itu hanya terlihat barang-barang kusam, seperti barang rongsokan, tapi sudah dibersihkan dan ditata cukup rapih disana sini. Tapi tetap saja kusam, buram.

Si tamu memanjangkan kakinya, bersandar pada dinding yang dingin. Sejenak tamu itu seolah canggung, bingung. Pandangannya menjelajah seluruh isi ruangan, lagu yang diputarnya dari piringan hitam seolah menelan suara-suara sayup dari luar ruangan itu, seolah hanya ada lagu tersebut dan dia, seolah semua yang didalam ruangan itu bertambah buram. Lagu itu menyeret pandangannya pada lemari di seberang ruangan, tepat di depannya. Tamu itu beranjak pelan mendekati lemari tersebut dengan perasaan tertarik, di depan lemari itu dia tercenung. Di amatinya sebuah kotak kayu pada rak paling atas. Perasaannya seperti terseret sedikit demi sedikit, diraihnya kotak kayu itu, dibukanya perlahan. Tamu itu ternganga, kotak kayu itu terbuka lebar, kini hanya ada lagu yang mengalun, kotak kayu dan tamu itu. Gemetar jarinya mengais-ngais perlahan isi kotak tersebut.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ada disini? Kenangan ini, sekotak penuh kenangan ini? Si tamu masih menatap tidak percaya pada kenangan dalam kotak itu.
Sontak tamu itu terkejut dengan dobrakan pintu, penjual kenangan dengan napas tersengal merebut kotak kayu dari genggaman tangan si tamu.
“Yang ini jangan!”, teriak si penjual kenangan. Si tamu berdiri terhuyung saat kotak itu direbut dari tangannya.
“Yang ini jangan! Ini punyaku!, pundak penjual kenangan naik turun seiring napasnya, nampak dia seperti tergopoh setengah berlari menuju ruangan itu.
“Bagaimana mungkin?”, si tamu bertanya lirih dengan wajah terperangah.
Keduanya bertatapan tergeragap, lagu tetap mengalun.
“Ini punyaku!”, mata penjual kenangan melotot pada si tamu.
“Tapi itu milikku, kenangan itu milikku, kau…”
Susah payah si penjual kenangan menahan sakit di tenggorokannya, dua matanya berkaca.
“Dimana kau temukan kenanganku?”, tanya si tamu dengan wajah terperangah, jantungnya berpacu.
“Tidak kutemukan!”
“Kau mencurinya dariku?”
“Tidak! Kau merebutnya dariku!”
“Bagaimana mungkin….”
“Ini seharusnya punyaku! Kau merebutnya dariku… KAU MEREBUTNYA!”
“Kau…”
“Iya, ini aku!”,
“Barjan…”
“Betul, ini aku! Kau merebut semua kenangan ini dariku, Jamal!”
“Bagaimana bisa aku merebutnya darimu? Justru aku yang seharusnya bertanya bagaimana bisa kenanganku ada di dalam kotak ini, di dalam rumahmu ini!”

Penjual kenangan terdiam, sakit di tenggorokannya makin tak tertahan, perlahan jatuh kedua air matanya.
“Kau merebutnya dariku! Jadi ku ambil kembali semua kenangan itu…” bergetar suara penjual kenangan.
“Bagaimana bisa?!” suara si tamu meninggi.
Pejual kenangan terdiam, si tamu merebut kotak itu darinya, kali ini si penjual kenangan membiarkannya.
“Ini kenanganku, ini kenanganku, dan ini jelas-jelas kenanganku!”, si tamu tergopoh membongkar dan mengangkat kenangan yang ada di dalam kotak itu satu persatu.

Keduanya lalu bersitatap tegang, si tamu menatap penuh curiga, penjual kenangan menatap si tamu dengan marah sekaligus seperti maling yang terbukti mencuri di tengah ramainya sidang, darahnya berdesir. Direbutnya kembali kotak itu dan memasukkan kenangan-kenangn yang berserakan di lantai.
“Seharusnya itu menjadi kenanganku Jamal…”
“Lalu mengapa tidak?”
“Mulutku terlalu berat Jamal, lidahku kaku”"
“Picisan sekali kau Barjan”
“Kau yang picisan! Mudah sekali berkata-kata indah padanya dulu, sehingga dia memilihmu!”
“Kau yang bodoh! Diam saja seribu tahun! Apa yang kau nanti?”
“Rasaku terlalu dalam untuk kukatakan Jamal…”
“Bah! Sedalam kebodohanmu? Dia hanya menunggu kau mengatakannya dulu! Tapi tidak! Kau terlalu banyak pertimbangan! Terlalu takut bertepuk sebelah tangan! Terlalu takut patah hati! Payah kau Barjan!”
“Kau merebutnya Jamal!”
“Dia datang padaku sekali dua hanya untuk bercerita tentangmu Barjan, bagaimana perasaannya padamu, tapi dia pun tak mau mengucap rasa padamu, dia ingin kau yang mengatakannya terlebih dulu!”

Bergetar tubuh penjual kenangan, “Kenapa tak kau katakan padaku Jamal?”
“Aku tidaklah bodoh Barjan, tak mau kutipu diriku sendiri kalau aku juga menginginkannya, tapi aku tidak mencuri, aku tidak memaksanya, dan aku tidak memburuk-burukkanmu supaya dia memilihku, sama sekali tidak! Dia pun akhirnya memilihku dalam keadaan setengah hati Barjan, namun kuraih hatinya semampu yang ku bisa, dan… hasilnya adalah yang kau pegang sekarang!”
Lemas sudah penjual kenangan mendengarkan ucapan tamunya, terduduk ia di lantai.
“Berikan kenanganku, Barjan…”
“Tapi hanya kupinjamkan…”, penjual kenangan menatap nanar.
Si tamu dengan berdebar meraih kotak itu dari tangan penjual kenangan dan membukanya, sedikit dibukanya kotak itu…
“Jangan kau buka disini!, sambar penjual kenangan cepat.
Keduanya terdiam, “Aku pamit Barjan, dua hari lagi kukembalikan.”
Tamu itu kemudian berbalik badan berjalan menuju pintu keluar, penjual kenangan terduduk lesu dengan air mata mengalir.
Tergeragap kemudian dikejarnya tamu yang hendak menggapai pagar halaman yang penuh bunga, “Jamal!”, terkejut si tamu menghentikan langkahnya dan berbalik. “Kau bawa saja kenangan itu, aku tak butuh lagi!” ujar penjual kenangan dengan suara yang terkesan ditegar-tegarkan.

Tamu itu terdiam, senang bertunas di hatinya, namun ditahannya agar tidak berbunga wajahnya di depan kawan lamanya.
Si tamu mengangguk penuh terimakasih dan pergi. Penjual kenangan itu kemudian menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya, saat melintasi ruang tengah, dia berkata pada pemuda yang tinggal bersamanya ” Ali, besok bantu aku buang semua kenangan itu”
“Semuanya Paman?”
“Iya, semua! Semua!” ujarnya tegas. “Kenangan-kenangan itu cuma membuat kupingku pekak, berisik!” katanya sambil berlalu menuju kamarnya. Tak lama langkahnya terhenti, “Kita sisakan sedikit Ali, seperlunya! Kenangan itu seharusnya memang tersisa seperlunya saja!”
“Lalu…”
“Besok kau antar aku melamar janda yang rumahnya di seberang kali sana!”
“Yang suka mengirim kembang pertanda cinta sejuta rasa itu?” tanya pemuda tanggung sambil tersenyum menyindir.
“Yang mana lagi menurutmu?”, si penjual kenangan menjawab sebal.
“Kenapa berubah pikiran?”
“Aku tidak mau lagi menghabiskan umurku dengan menenggak kenangan punya orang, jadi kupikir.. kubuat saja kenanganku sendiri, siapa tahu lebih indah dari punya orang lain! Lagipula kalau sudah ada temanku di rumah ini, kau tak perlu repot-repot menemaniku hampir saban hari!” masih dia memunggungi pemuda itu.
“Bagaimana kalau aku masih ingin direpotkan?”
“Tak rugilah aku kalau begitu!”
“Jadi mau kucarikan minyak wangi yang harumnya seperti apa?”, pemuda itu berusaha menahan tawa, hatinya sendiri girang.
“Yang paling yahud!” senyum si penjual kenangan tanpa berbalik badan, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju halaman, saatnya menyiram bunga, pekiknya dalam hati.

06/08/2009

Jendela Tua – Iyut Fitra

http://cetak.kompas.com/

Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan.

Sebuah jam lama di tonggak rumah gadang menunjukkan pukul delapan malam. Ibu tua itu baru saja selesai berdoa setelah sholat isya. Dengan sedikit tertatih ia berjalan menuju almanak yang tergantung di dinding. Setelah mengamati angka demi angka dalam almanak tersebut, perhatiannya beralih pada sebuah foto keluarga dengan bingkai yang lumayan besar di sisi dinding yang lain.

Ibu tua itu mengamati satu persatu foto yang terpampang tersebut. Suaminya. Dan lima orang anaknya. Tiga laki-laki dan dua orang perempuan. Entah mengapa, mereka sama-sama tersenyum saat berfoto. Ibu tua menghela nafas panjang.

”Kesunyian juga akhirnya yang menetaskan rindu. Suara anak-anak. Canda keluarga. Barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara. Adakah kesendirian dapat melunasi semua itu?” ibu tua itu bergumam sendiri, lalu berjalan menuju kursi kayu untuk memulai aktivitasnya tiap malam, menjahit. Merenda kain pintu atau taplak meja sebagai perintang waktu sebelum larut mengirimkan kantuk. Sebelum ia benar-benar jenuh dengan rangkak malam yang akhir-akhir ini ia rasa bergerak sangat lamban.

Usianya sudah enam puluh lima tahun. Meski wajahnya masih mencerminkan ketegaran, tapi semua itu tidak mampu menghadang tiap lembar rambutnya yang memutih serta kulitnya yang keriput. Semenjak ketiga anaknya yang laki-laki beristri, dan kedua anaknya yang perempuan bersuami dan memilih menetap di rantau, serta semenjak suaminya meninggal, rumah gadang itu mulai sunyi. Hanya Upik, seorang anak perempuan tetangga yang masih kelas enam SD yang menemani kehidupannya menjalani hari-hari. Tak banyak kesulitan memang dalam hidupnya. Selain harta dan tanah pusaka yang banyak menghasilkan seperti kelapa, padi, jagung dan sebagainya, anak-anaknya pun tidak pernah absen untuk mengirimkan uang tiap bulan. Tapi kesunyian dengan apa harus dibayarnya?

”Apa yang dapat dimaknai dari rumah gadang kebesaran. Lengkung luas kelapangan. Tanah, sawah, dan tanaman yang berlimpah. Sementara sekeping jiwa larut dalam lengang…,” sering ia keluhkan itu. Sering perasaan itu mendatangi dan mengganggu ketenangan malam-malamnya.

Tiap hari dilalui oleh ibu tua seolah-olah waktu tak ada guna. Bangun pagi-pagi. Setelah sholat subuh dia mulai memasak. Lalu membersihkan rumah. Lalu mencabut-cabut rumput. Lalu menunggu Upik pulang sekolah. Lalu makan. Lalu menjahit. Lalu tidur. Lalu…

Sering ia tersenyum sendiri apabila mendengar lantunan tape dari rumah tetangga dengan lirik pantun Minang yang menggelitik: Kalaupun ada batang cumanak. Daunnya banyak yang muda. Kalaupun ada banyak dunsanak. Tapi tak ada tempat beriya. Ya, mereka semua jauh. Rantau lebih memikat mereka ketimbang dusun yang lengang. Gegas kota lebih membuat hidup terasa berdenyut dibanding lengking bangsi yang merusuh hati. Ibu tua tak sanggup memaksa mereka untuk pulang, untuk menetap di kampung. Apalagi semua anaknya telah memiliki rumah sendiri di rantau. Memiliki keluarga sendiri.

”Mungkin ini yang ibu-ibu lupa. Yang kita lupa. Bahwa suatu saat suami pasti pergi. Anak-anak pergi. Dan kita kembali sendiri!” gumam ibu tua itu kembali tersenyum sendiri.

Di jendela, ibu tua menatap jauh ke halaman. Anak-anak bermain lumpur, berlempar-lemparan. Ada yang berkejar layang-layang putus. Di ujungnya, gunung Sago terhampar jelas. Waktu itu pun menyergapnya. Sesuatu yang bernama kenangan. Lembar-lembar di satu kurun yang disebut lampau. Ketika ia mengajak anak-anaknya ke sawah. Berjalan di pematang. Mengantarkan kawa (makanan dan minuman) untuk petani-petani yang mengerjakan sawahnya. Seraya tertawa-tawa mereka akan berebutan menangkap capung-capung merah dan belalang. Mereka bermain ke sungai. Mandi-mandi. Lalu makan bersama-sama dengan para petani. Dengan samba lado dan ikan asin yang dibuatnya di rumah. Lalu mereka pulang setelah senja. Setelah pelangi melengkungi hamparan sawah luas yang menguning. Ah, kenangan!

Ibu tua meninggalkan jendela itu. Ia kembali menuju almanak. Matanya tak lepas-lepas dari angka-angka tersebut seolah-olah ada satu harapan yang ingin digenggamnya. Sebentar lagi lebaran. Anak-anaknya akan pulang. Dan tentu bersama suami dan istri mereka serta cucu-cucunya. Kesunyiannya akan pecah. Gumpal lengang yang selama ini menyesak dada akan mencair dan mengalir. Ia harus bersiap untuk menyambut mereka. Ibu tua tersenyum puas. Sangat lepas.

”Upik, seminggu lagi mereka pulang. Tolong peram pisang yang ditebang kemaren. Etek Suni paling suka kolak dicampur lemang!”

”Jangan lupa minta jagung pada Pak Simuh. Pak Adang Kalun pasti minta jagung bakar!”

”Kita nanti akan buat samba lado tanak buat Etek Eti!”

”Oya, Upik. Juga pangek ikan buat Pak Etek Rustam!”

”Pical buat Pak Angah!”

Upik kadang bingung. Kadang ucapan-ucapan ibu tua sudah seperti orang meracau. Tapi bocah kecil itu mencoba memahami dengan usianya sendiri, betapa menggunungnya rindu yang menggumpal di diri ibu tua. Dengan patuh ia siapkan apa yang diminta oleh ibu tua.

Sementara sang ibu tua, segala sesuatu terhadap tingkah dan lakunya terlihat berlebihan. Beras yang masih ada di tambah. Takut nanti tidak cukup, katanya. Setiap hari ia bersihkan rumah. Debu-debu. Kain pintu ditukar dengan yang baru. Begitu juga dengan gorden dan taplak meja. Halaman dan perkarangan diupahkan untuk membersihkannya. Pagar rumah dicat. Ibu tua terlihat riang dan girang. Sebentar-sebentar ia melihat almanak. Sebentar-sebentar ia tersenyum. Sebentar-sebentar ia beralih melihat foto keluarga. Foto di mana mereka semua sedang tersenyum.

”Sunyi akan pecah dari rumah ini!” ucapnya seakan-akan baru saja memenangkan sebuah pertarungan panjang. Itu terlihat dari wajah keriputnya yang menjelma berseri-seri penuh kesenangan.

Jendela rumah gadang. Sebuah bingkai tempat menatap hari dan waktu. Keramain dan kesunyian. Keindahan dan kepahitan. Segala yang bernama masa lampau, hari ini, maupun jelang esok, akan tergambar sebagai sebuah potret. Refleksi dari sebuah perjalanan yang dititahkan oleh Tuhan. Dan setiap pergulirannya akan menjelma menjadi gambar kehidupan.

Tapi ibu tua mungkin lupa dengan gerak yang bernama perubahan. Ketika anak-anak, menantu dan cucu-cucu yang ditunggu-tunggunya pulang, ia sama sekali tidak melihat sunyi yang pecah. Tidak menyaksikan lengang yang cair. Tak ada yang mengalir ke muara. Hanya diam yang kejam. Justru yang ditemukannya adalah sebuah siksaan baru yang bernama keasingan.

Ia tidak mengerti lagi dengan bahasa anak-anaknya yang telah jauh bertukar. Dengan ucapan-ucapan mereka yang terdengar aneh. Kadang terdengar keras dan tidak sopan. Sikap dan tingkah laku mereka terlihat sangat berjauhan dengan kebiasaan orang-orang di kampung. Mereka telah mengusung kota ke rumah gadang ibu tua. Jantung ibu tua tertusuk. Pedih. Sangat pedih. Ia merasa rindunya telah menghantam kepalanya. Ia ingin menangis. Apalagi ketika mereka lebih memilih makan ke restoran ketimbang mencicipi masakan yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan ibu tua. Ia merasa dirinya limbung dan segera akan rubuh. Matanya berkunang-kunang. Panas.

Di jendela, sehari setelah anak-anak, menantu dan cucunya kembali ke kota, ibu tua tertegun menatap jauh ke halaman. Di belakangnya Upik diam tak berkata-kata. Dendang dari tape tetangga tak terasa mengiringi tetes tangis ibu tua yang titik menimpa selendang usangnya: Kalau dipikir-pikir benar. Luka hati jika tambah parah. Rendahlah ngarai dipandangi. Sebab selarut selama ini. Kalian tau apa yang membuat sedih. Dikira kalian datang mengobati. Berharap luka kan sembuh. Mengapa asam kalian siramkan. Tak ada lagi yang sesakit ini. Bila tak ingat Tuhan. Tentu lebih baik memilih mati.

Ibu tua mencoba tersenyum mendengar dendang tersebut. Dihapusnya airmata. Lalu menatap ke arah Upik.

”Upik, ketuaan adalah kesunyian. Serupa usia. Atau mungkin waktu yang juga sudah tua. Pada akhirnya kita memang tak akan dapat mengelak dari kesendirian. Rindu hanyalah sebatas keinginan. Apa pun selebihnya adalah milik Tuhan!” ucap ibu tua itu. Lalu menutup jendela. Dan senja pun turun di kampung itu.

Payakumbuh, September 2008.