
Kalau kau berjalan-jalan ke pasar itu, coba tengok di pojok. Ada rumah mungil berwarna putih, bentuknya manis, sederhana saja, dengan dua jendela kaca di kanan dan kiri dengan pintu berwarna senada diantaranya. Bebungaan tumbuh tertata rapi di halaman. Rumah itu bukan sekedar rumah tinggal, namun ia juga sebuah toko. Tidak ada papan nama yang besar untuk toko itu, hanya papan kayu kecil bertuliskan ‘jual kenangan’.
Tidak seperti di kios-kios yang lain di pasar, terutama kios sembako yang selalu penuh dengan pembeli, toko mungil dan sekaligus rumah yang asri itu tampak sepi, hanya satu dua orang yang nampak keluar masuk pintu.
Tapi selalu saja ada yang datang, hampir setiap hari, yang datang biasanya melongok-longok kaca jendela depan, menarik lonceng kecil bermodel kuno yang tergantung di sebelah kanan pintu. Kemudian akan dipersilakan masuk oleh si empunya toko.
Wajah-wajah yang keluar masuk toko itu diam-diam mencuri perhatian orang-orang di sekitar, para pedagang kios, para pembeli, tukang ojek, penjual bunga, pedagang kue. Semua kerap mencuri lihat. Kadang tanpa sengaja menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala dagangan tidak terlalu laku, seraya menebak-nebak apa yang terjadi di dalam rumah itu.
Perempuan dan laki-laki yang datang biasanya mencari kenangan cinta di masa lalu, tidak hanya sepotong, tapi bergudang-gudang kenangan dibongkar disana. Ternyata orang terkadang begitu rakus pada kenangan. Beberapa keluar toko sambil tersenyum, ada yang murung, sekali dua perempuan terlihat bergegas sambil mengusap air mata, ada juga yang tertawa terbahak-bahak.
Pejabat mencari kenangan masa jayanya, orang tua mencari kenangan masa kanak-kanaknya, masa remajanya juga tak ketinggalan ditengok. Veteran, guru, pegawai, mahasiswa, artis ibu kota, hampir semua, hampir semua orang di kota itu mencari kenangan yang tercecer… datang dan pergi dalam diam. Termasuk orang-orang yang ditinggal dan pergi meninggalkan.
Di rumah yang menjual kenangan itu tinggal seorang laki-laki hampir separuh baya dengan seorang pemuda tanggung usia. Sesekali terlihat anak dan bapak itu bercakap-cakap di sore hari, sambil mengurus kebun bunganya, tak jarang sambil minum teh dan bernyanyi-nyanyi, terkadang lagu keroncong atau melayu seperti keinginan si Bapak, terkadang lagu masa kini seperti keinginan si anak yang bermain gitar. Hanya berdua saja, berdua.
Keberadaan toko itu diketahui dari desas desus saja, tidak diiklankan di koran atau selebaran apalagi di televisi. Dari mulut ke telinga, ke mulut lagi lalu ke telinga, beberapa berita tentang toko itu kemudian sampai ke pikiran lalu ke hati, bila sudah sampai ke hati, beberapa orang akan mencari toko itu.
Tidaklah sulit mencarinya, karena tidak banyak toko yang menjual kenangan.
Namun tak jarang yang ragu untuk melangkahkan kaki ke dalam, hanya tepekur di depan pagar yang rendah berwarna putih, menatap lekat-lekat papan kecil bertuliskan ‘jual kenangan’, terkadang ada yang berbalik arah, tidak jadi masuk, namun beberapa hari kemudian datang kembali.
Suatu sore datang seorang laki-laki berusia sekitar setengah abad.
Laki-laki itu mematung di depan pagar putih, di depan halaman nan asri. Ia menimbang-nimbang, apakah jadi kulongok sedikit kenangan itu? apa Ia punya kenangan yang kucari? Apa benar seperti yang dikatakan orang-orang, toko ini memang menjual kenangan? Bagaimana kenangan bisa dijual?
Ragu laki-laki itu melangkahkan kakinya ke halaman rumah tersebut. Sampai di depan pintu, Ia menarik nafas dalam-dalam. Baru saja Ia mengangkat tangannya untuk menarik lonceng, tiba-tiba pintu terbuka, kedua laki-laki itu terkejut.
“Ah… cari siapa?” tanya si penjual kenangan.
“Maaf, tapi.. apa betul tempat ini… “
“Menjual kenangan?”, potong si empunya rumah.
“Ya..”, sahut pengunjung toko pelan.
“Ya, saya menjual bermacam-macam. Macam-macam barang yang saya temukan selama dalam perjalanan saya ke sana kemari!”
“Macam-macam barang?”
“Ya barang… ah duduklah…”
Laki-laki penjual kenangan itu masuk ke dalam rumahnya yang mungil, tak lama Ia datang bersama pemuda yang tinggal bersamanya dengan dua gelas kosong dan seteko besar limun dingin.
Pemuda menuangkan limun ke dalam dua gelas bening, titik-titik air kemudian muncul pada sisi gelas, terlihat nikmat dan sejuk sekali di sore yang gerah.
Kemudian pemuda tanggung itu masuk ke dalam.
“Silahkan…”.
Tamu mengangguk, kemudian mereka berdua meneguk minuman itu dengan cepat.
“Panas sekali hari ini bukan?” tanya penjual kenangan.
“Iya, mungkin akan turun hujan”
“Biasanya begitu.”
Si tamu memandang halaman rumah yang penuh dengan bunga warna warni.
“Anda senang tanaman rupanya”.
Penjual kenangan tersenyum, “Mereka itu seperti teman bagi saya, kadang menyenangkan, kadang luka pula dibuatnya.”
“Ya…”, sahut si tamu sambil tetap mengagumi halaman mungil nan asri tersebut.
“Jadi maksud kedatangan anda…”
“Ah begini, saya mendengar bahwa disini menjual….”, ragu dia meneruskan
“Kenangan?”
“Ya, kenangan.” lanjutnya sambil sedikit meringis.
Penjual kenangan terkekeh melihat tamunya.
“Ya saya menjual kenangan, apakah anda sedang mencari kenangan anda?”
“Apakah anda punya kenangan milik saya?”, tanyanya sedikit terkejut.
“Saya tidak tahu, begitu banyak kenangan tercecer disana sini dalam perjalanan saya yang kesana kemari.” Ia mengambil pipanya, menaruh sedikit tembakau, kemudian membakar lalu menghisapnya dalam-dalam. Asap bulat mungil keluar dari mulutnya yang berjanggut putih.
“Saya tidak tahu itu kenangan milik siapa saja, tapi saya mengambilnya, karena saya pikir… ada saja orang yang akan mencarinya kembali, dan jika kenangan itu sengaja dibuang, saya pikir saya akan mencegahnya berpapasan lagi dengan pemiliknya, kebanyakan itu adalah kenangan buruk, buruk bagi si pemiliknya tentu. Bagi saya tidak, jadi saya tidak merasa terganggu menyimpannya.
“Lalu untuk apa kenangan buruk itu anda simpan?”
“Kadang saya pelajari, mmm… kenapa kenangan itu bisa menjadi begitu buruk bagi seseorang.”
“Apa yang anda dapat?”
“Haha, kebanyakan bagaimana cara kita bersikap atau memandang sesuatu saja, tapi saya tidak tahu jika saya di posisi si pemilik kenangan, mungkin saya akan bersikap sama dengan mereka. Jadi anda mau mencari kenangan anda atau tidak?”
Tamu mengangguk.
“Mari, kalau begitu saya antarkan.”
“Sebentar… berapa biayanya?”
“Biaya?”
“Iya, biaya untuk membeli kenangan saya, apabila kenangan saya memang ada di dalam”
Penjual kenangan tertawa terkekeh, diteguknya limun dingin yang masih tersisa di dalam gelas.
“Tidak usah dibayar. Gratis!” katanya mantap.
“Ha? Bagaimana bisa begitu? Di papan itu tertulis menjual kenangan, bukan membagi kenangan.”, si tamu bingung.
“Anda menolak?”
“Bukan, hanya…”
“Seringnya orang memang mempersulit diri sendiri bukan? Kebanyakan mengagumi barang mahal yang mengilap daripada barang obral atau gratisan yang mungkin fungsinya masih sama hanya tampilan luarnya lebih kusam…”, penjual kenangan itu tertawa terkekeh sambil mengintip dari balik kacamata bacanya.
“Tapi kenapa….?”
“Kenapa? untuk memikat orang tentu, seperti kata saya tadi, kebanyakan orang lebih suka membeli daripada diberi, termasuk saya kadang. Jadi kata menjual itu untuk pancingan.” seringainya.
“Lalu apa keuntungan anda?”
“Saya cuma ingin mengosongkan sedikit gudang kenangan yang saya punya. Sudah terlalu penuh, berisik! Lagi pula bukan semuanya kenangan itu milik saya atau kerabat saya.”
“Hanya itu?”
“Hanya itu, jadi…?”, si penjual kenangan membentangkan tangannya mengarah ke pintu masuk rumahnya. Si tamu terlihat canggung, mengikuti penjual kenangan masuk ke dalam.
Sejuk terasa di dalam rumah itu, sejuk bukan buatan pendingin ruangan. Mereka terus berjalan ke bagian belakang rumah, melintasi ruang keluarga. Sesaat sebelum berlalu, penjual kenangan menyapa pemuda yang tengah bermain video game.
Penjual kenangan dan tamunya tiba di satu ruangan, tidak terlalu besar, bersih, barang-barang tertata rapi di ruangan itu.
“Silahkan, carilah kenangan anda.”, ujar penjual kenangan tersenyum ramah.
Si tamu serupa bingung wajahnya, bagaimana mencari kenangan di dalam ruangan ini?.
“Cari saja, kebanyakan orang pertama kali akan bingung.”
“Saya memang bingung, bagaimana mencari kenangan di sini? Cuma ada barang-barang yang…”
“Yang kebanyakan sepertinya cuma sampah?”
Si tamu terdiam, takut menyinggung perasaan si penjual kenangan. Senyum terkembang tak lepas dari wajah si penjual kenangan,”Kenangan seringkali memang buram bukan? Karena memang bukan barang baru.”
“Tapi bagaimana saya bisa tahu kenangan saya ada disini?”
“Ada berapa banyak kenangan anda?”
“Banyak…”
“Yang anda cari?”
“Ah…”
“Santai sajalah, duduk-duduk dengan tenang. Anda boleh menyetel radio atau piringan musik lama milik saya. Nanti akan ketemu sendiri apa yang anda cari, mungkin…. . Saya tinggal dulu.” Penjual kenangan berlalu menutup pintu.
Si tamu kemudian duduk bersila diatas karpet dengan motif kotak-kotak berwarna warni, di sebelahnya sebuah meja kecil menopang sebuah radio kaset. Meja di tengah ruangan yang berukuran lebih besar diletakkan sebuah pemutar piringan hitam.
Tamu itu perlahan bangkit dari duduknya, menghampiri koleksi piringan hitam milik penjual kenangan. Tersenyum-senyum si tamu memandang koleksi piringan hitam itu, dipasangnya sebuah. Lagu mengalun, tamu itu menarik nafas dalam, senyumnya makin mengembang, ah…. puluhan tahun lalu seolah terasa hadir kini.
Tamu itu kemudian teringat bahwa dia harus mencari kenangannya, kenangan yang membuatnya datang jauh-jauh dari luar kota. Bagaimana mencarinya? Si penjual kenangan mengatakan bahwa ‘nanti juga akan ketemu’? Apa di ruangan ini ada katalog kenangan? Apa di setiap kenangan tercantum nama pemiliknya? Apa? Bagaimana? Dimana?, di ruangan itu hanya terlihat barang-barang kusam, seperti barang rongsokan, tapi sudah dibersihkan dan ditata cukup rapih disana sini. Tapi tetap saja kusam, buram.
Si tamu memanjangkan kakinya, bersandar pada dinding yang dingin. Sejenak tamu itu seolah canggung, bingung. Pandangannya menjelajah seluruh isi ruangan, lagu yang diputarnya dari piringan hitam seolah menelan suara-suara sayup dari luar ruangan itu, seolah hanya ada lagu tersebut dan dia, seolah semua yang didalam ruangan itu bertambah buram. Lagu itu menyeret pandangannya pada lemari di seberang ruangan, tepat di depannya. Tamu itu beranjak pelan mendekati lemari tersebut dengan perasaan tertarik, di depan lemari itu dia tercenung. Di amatinya sebuah kotak kayu pada rak paling atas. Perasaannya seperti terseret sedikit demi sedikit, diraihnya kotak kayu itu, dibukanya perlahan. Tamu itu ternganga, kotak kayu itu terbuka lebar, kini hanya ada lagu yang mengalun, kotak kayu dan tamu itu. Gemetar jarinya mengais-ngais perlahan isi kotak tersebut.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ada disini? Kenangan ini, sekotak penuh kenangan ini? Si tamu masih menatap tidak percaya pada kenangan dalam kotak itu.
Sontak tamu itu terkejut dengan dobrakan pintu, penjual kenangan dengan napas tersengal merebut kotak kayu dari genggaman tangan si tamu.
“Yang ini jangan!”, teriak si penjual kenangan. Si tamu berdiri terhuyung saat kotak itu direbut dari tangannya.
“Yang ini jangan! Ini punyaku!, pundak penjual kenangan naik turun seiring napasnya, nampak dia seperti tergopoh setengah berlari menuju ruangan itu.
“Bagaimana mungkin?”, si tamu bertanya lirih dengan wajah terperangah.
Keduanya bertatapan tergeragap, lagu tetap mengalun.
“Ini punyaku!”, mata penjual kenangan melotot pada si tamu.
“Tapi itu milikku, kenangan itu milikku, kau…”
Susah payah si penjual kenangan menahan sakit di tenggorokannya, dua matanya berkaca.
“Dimana kau temukan kenanganku?”, tanya si tamu dengan wajah terperangah, jantungnya berpacu.
“Tidak kutemukan!”
“Kau mencurinya dariku?”
“Tidak! Kau merebutnya dariku!”
“Bagaimana mungkin….”
“Ini seharusnya punyaku! Kau merebutnya dariku… KAU MEREBUTNYA!”
“Kau…”
“Iya, ini aku!”,
“Barjan…”
“Betul, ini aku! Kau merebut semua kenangan ini dariku, Jamal!”
“Bagaimana bisa aku merebutnya darimu? Justru aku yang seharusnya bertanya bagaimana bisa kenanganku ada di dalam kotak ini, di dalam rumahmu ini!”
Penjual kenangan terdiam, sakit di tenggorokannya makin tak tertahan, perlahan jatuh kedua air matanya.
“Kau merebutnya dariku! Jadi ku ambil kembali semua kenangan itu…” bergetar suara penjual kenangan.
“Bagaimana bisa?!” suara si tamu meninggi.
Pejual kenangan terdiam, si tamu merebut kotak itu darinya, kali ini si penjual kenangan membiarkannya.
“Ini kenanganku, ini kenanganku, dan ini jelas-jelas kenanganku!”, si tamu tergopoh membongkar dan mengangkat kenangan yang ada di dalam kotak itu satu persatu.
Keduanya lalu bersitatap tegang, si tamu menatap penuh curiga, penjual kenangan menatap si tamu dengan marah sekaligus seperti maling yang terbukti mencuri di tengah ramainya sidang, darahnya berdesir. Direbutnya kembali kotak itu dan memasukkan kenangan-kenangn yang berserakan di lantai.
“Seharusnya itu menjadi kenanganku Jamal…”
“Lalu mengapa tidak?”
“Mulutku terlalu berat Jamal, lidahku kaku”"
“Picisan sekali kau Barjan”
“Kau yang picisan! Mudah sekali berkata-kata indah padanya dulu, sehingga dia memilihmu!”
“Kau yang bodoh! Diam saja seribu tahun! Apa yang kau nanti?”
“Rasaku terlalu dalam untuk kukatakan Jamal…”
“Bah! Sedalam kebodohanmu? Dia hanya menunggu kau mengatakannya dulu! Tapi tidak! Kau terlalu banyak pertimbangan! Terlalu takut bertepuk sebelah tangan! Terlalu takut patah hati! Payah kau Barjan!”
“Kau merebutnya Jamal!”
“Dia datang padaku sekali dua hanya untuk bercerita tentangmu Barjan, bagaimana perasaannya padamu, tapi dia pun tak mau mengucap rasa padamu, dia ingin kau yang mengatakannya terlebih dulu!”
Bergetar tubuh penjual kenangan, “Kenapa tak kau katakan padaku Jamal?”
“Aku tidaklah bodoh Barjan, tak mau kutipu diriku sendiri kalau aku juga menginginkannya, tapi aku tidak mencuri, aku tidak memaksanya, dan aku tidak memburuk-burukkanmu supaya dia memilihku, sama sekali tidak! Dia pun akhirnya memilihku dalam keadaan setengah hati Barjan, namun kuraih hatinya semampu yang ku bisa, dan… hasilnya adalah yang kau pegang sekarang!”
Lemas sudah penjual kenangan mendengarkan ucapan tamunya, terduduk ia di lantai.
“Berikan kenanganku, Barjan…”
“Tapi hanya kupinjamkan…”, penjual kenangan menatap nanar.
Si tamu dengan berdebar meraih kotak itu dari tangan penjual kenangan dan membukanya, sedikit dibukanya kotak itu…
“Jangan kau buka disini!, sambar penjual kenangan cepat.
Keduanya terdiam, “Aku pamit Barjan, dua hari lagi kukembalikan.”
Tamu itu kemudian berbalik badan berjalan menuju pintu keluar, penjual kenangan terduduk lesu dengan air mata mengalir.
Tergeragap kemudian dikejarnya tamu yang hendak menggapai pagar halaman yang penuh bunga, “Jamal!”, terkejut si tamu menghentikan langkahnya dan berbalik. “Kau bawa saja kenangan itu, aku tak butuh lagi!” ujar penjual kenangan dengan suara yang terkesan ditegar-tegarkan.
Tamu itu terdiam, senang bertunas di hatinya, namun ditahannya agar tidak berbunga wajahnya di depan kawan lamanya.
Si tamu mengangguk penuh terimakasih dan pergi. Penjual kenangan itu kemudian menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya, saat melintasi ruang tengah, dia berkata pada pemuda yang tinggal bersamanya ” Ali, besok bantu aku buang semua kenangan itu”
“Semuanya Paman?”
“Iya, semua! Semua!” ujarnya tegas. “Kenangan-kenangan itu cuma membuat kupingku pekak, berisik!” katanya sambil berlalu menuju kamarnya. Tak lama langkahnya terhenti, “Kita sisakan sedikit Ali, seperlunya! Kenangan itu seharusnya memang tersisa seperlunya saja!”
“Lalu…”
“Besok kau antar aku melamar janda yang rumahnya di seberang kali sana!”
“Yang suka mengirim kembang pertanda cinta sejuta rasa itu?” tanya pemuda tanggung sambil tersenyum menyindir.
“Yang mana lagi menurutmu?”, si penjual kenangan menjawab sebal.
“Kenapa berubah pikiran?”
“Aku tidak mau lagi menghabiskan umurku dengan menenggak kenangan punya orang, jadi kupikir.. kubuat saja kenanganku sendiri, siapa tahu lebih indah dari punya orang lain! Lagipula kalau sudah ada temanku di rumah ini, kau tak perlu repot-repot menemaniku hampir saban hari!” masih dia memunggungi pemuda itu.
“Bagaimana kalau aku masih ingin direpotkan?”
“Tak rugilah aku kalau begitu!”
“Jadi mau kucarikan minyak wangi yang harumnya seperti apa?”, pemuda itu berusaha menahan tawa, hatinya sendiri girang.
“Yang paling yahud!” senyum si penjual kenangan tanpa berbalik badan, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju halaman, saatnya menyiram bunga, pekiknya dalam hati.