Karena Sabar Tak Sesederhana Ongol-Ongol

http://resepmasakanhalal.blogspot.com/Beberapa hari yang lalu saya begitu sebal, sing suer saya sebal! Apa pasal?
Beberapa hari yang lalu itu saya lembur sampai sekitar jam delapan malam. Waktu saya mau beranjak pulang, saya dan rekan kerja memeriksa apa-apa yang harus kami lakukan sebelum meninggalkan kantor.

Lampu sudah dimatikan, hanya sebagian yang dinyalakan sebab masih ada rekan di bagian lain yang masih bekerja. Celingak-celinguk sana sini takut ada yang tertinggal, saya sedikit terkejut melihat serenceng kecil kunci menggantung pada sebuah pintu yang terbuka menuju salah satu ruang kerja . Oh oh, lupakah si karyawan yang bekerja di ruangan itu untuk mengambil kunci tersebut? Mengapa tidak di kunci? Bukankah ruangan ini adalah salah satu ruangan yang menyimpan begitu banyak uang perusahaan dan benda berharga lainnya?

Serta merta saya mengunci pintu ruang tersebut demi kemanan. Kunci saya letakkan di laci meja saya, yang sangat sangat mudah diambil namun tidak langsung terlihat oleh mata.
Saya juga menunjukkan letak kunci itu pada rekan yang sedang bersama saya bersiap-siap untuk pulang.

Di luar dugaan, keesokan harinya kepala saya terasa pening, pandangan berputar-putar. Maka saya memutuskan tidak pergi ke kantor. Saya pun tertidur setelah memberi kabar pada atasan saya bahwa saya tidak masuk, dan dengan sms yang menggantung belum selesai ditulis kepada rekan kerja saya yang lain (bukan yang saat itu bersama saya lembur) mengabarkan bahwa saya menyimpan kunci salah satu ruangan di laci meja komputer saya.
Antara kantuk dan tidak saya mengirimkan sms tersebut.

Alhamdulillah, keesokan harinya lagi, pening di kepala saya pulih. Saya berangkat ke kantor seperti biasa.
Beberapa saat setelah duduk dan menjawab sapaan dan pertanyaan rekan dan atasan, seseorang menyampaikan (selanjutnya kita sebut Pak Dodo) ,”Hei, waktu itu kunci kamu yang simpan …”, saya potong omongannya dan sambil menunjuk ke rekan lain-sebut saja Andri-(tanpa bermaksud tidak sopan, karena kami biasa bercanda, termasuk bercanda yang agak ketus :p-), “sudah dibilang tempatnya ke dia, Pak!”

Andri malah tertawa dan tersenyum-senyum seperti biasa, “Mbak, kemarin sakitnya terasa waktu mau berangkat ya?’. “Iya.’ jawab saya singkat.

Pak Dodo kemudian mulai tertawa-tawa sedikit salah tingkah, “Si Andri belum selesai ceritanya, tapi… ini jangan dijadikan penghalang untuk berbuat baik ya… ternyata tidak setiap perbuatan baik itu mendapat respon yang positif.”, begitulah kira-kira kalimat yang dikatakan Pak Dodo. Mulailah saya bingung, ‘ini ada apa sih sebenarnya?’.

Singkat cerita, ternyata saat saya tidak masuk tersebut, beberapa (atau malah hanya seorang?) rekan mengomel karena pintu masuk ke ruang kerja mereka terkunci sehingga mereka tidak bisa langsung masuk. Disangka ada seseorang yang mempermainkan mereka dan sampai terucap ‘siapa sih nih yang ngumpetin? Disumpahin sakit deh!”, kurang lebih begitu umpatannya. Kuping saya panas mendengarnya, mulailah saya mengomel sendiri ‘ya kalau begitu jangan digantung dong kuncinya!, hu uh,! Sebalnya saya waktu itu. Niat saya mengamankan ruangan tersebut malah mendapat tanggapan yang berbeda, disumpahi sakit pulak!.
Mungkin saya salah menganggap bahwa fungsi ruangan itu juga untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Lagipula saya kan refleks, tidak sempat tanya-tanya itu ruangan perlu dikunci atau tidak, terlebih sudah tidk ada siapa-siapa disitu (pembelaan nih ceritanya :p).
Saking sebalnya saya sampai beristighfar dan berta,awudz. Hush… hush… pergilah setan! Jangan tiup-tiup supaya jadi amarah saya jadi lebih besar (lagi-lagi mengkambing hitamkan setan, kan setan di bulan Ramadhan ini diikat bukan? :D ).

Saya tidak berpikir sakit saya yang timbul tempo hari lalu karena sumpah serapah si ‘entah siapa dia ‘ yang bekerja di ruangan itu, saya pun emoh mencari tahu, nanti saya malah benci atau sebal sama si ‘entah siapa dia’. Lebih-lebih memang sakit saya sudah timbul ketika subuh. ‘Do’a jelek tak didengar Allah!’, batin saya.

Memang susah sekali untuk bersikap sabar dan ikhlas, tidak sesederhana membuat ongol-ongol (eits, siapa bilang bikin ongol-ongol gampang ya, saya yang tidak bisa masak ini sok tau sekali, :p ), tapi bukan berarti sikap tersebut ditinggalkan.

Kembali kalimat itu melintas di kepala saya ‘orang sabar disayang ALLAH’, ah senangnya orang yang bisa bersabar.

:)

Leave a Comment

Filed under Ngalor Ngidul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s