19/04/2009

Ten Years Gone – Led Zeppelin

Led Zeppelin

“Ten Years Gone”

Then as it was, then again it will be

An’ though the course may change sometimes

Rivers always reach the sea

Blind stars of fortune, each have several rays

On the wings of maybe, down in birds of prey

Kind of makes me feel sometimes, didn’t have to grow

But as the eagle leaves the nest, it’s got so far to go

Changes fill my time, baby, that’s alright with me

In the midst I think of you, and how it used to be

Did you ever really need somebody, And really need ‘em bad

Did you ever really want somebody, The best love you ever had

Do you ever remember me, baby, did it feel so good

‘Cause it was just the first time, And you knew you would

Through the eyes an’ I sparkle, Senses growing keen

Taste your love along the way, See your feathers preen

Kind of makes makes me feel sometimes, Didn’t have to grow

We are eagles of one nest, The nest is in our soul

Vixen in my dreams, with great surprise to me

Never thought I’d see your face the way it used to be

Oh darlin’, oh darlin’

I’m never gonna leave you. I never gonna leave

Holdin’ on, ten years gone

Ten years gone, holdin’ on, ten years gone

suka deh sama lagu ini, sama vokalisnya juga :D


07/04/2009

Gejolak Kawula Muda

KBBI

Sudah hampir tiga tahun, setiap hari rute yang saya lewati antara rumah ke kantor, kantor ke rumah, ya itu itu saja. Kalimalang-Cawang-Slipi, Slipi-Cawang-Kalimalang. Angkotnya pun ya itu itu juga setiap hari, mikrolet 29 (jurusan Klender-Cililitan) kemudian beralih ke Patas no. 6 ( bis Mayasari Bakti yang terkenal jurusan Kampung Rambutan – Grogol). Pulang pun demikian P6-M29,saya termasuk beruntung untuk kantor yang jaraknya jauh dari rumah, ganti angkutan hanya satu kali.

Hanya sesekali saya harus berganti angkot lebih dari sekali, misalkan waktu M29 hanya ‘narik’ sampai Lampiri (persimpangan Jl. Pondok Kelapa dan Kalimalang) karena penumpangnya sedikit dan lebih-lebih dengan rute ke cililitan yang panjang dan macet membuat supir ‘ogah’. Karena macet ini pula terkadang saya memutuskan naik ojek (sekali naik taksi, tapi deg deg an di jalan dan mata saya susah lepas dari argo, maklum dompet isi nya receh semua, he he).

Hampir setiap pagi juga saya melihat pemandangan yang itu-itu saja, macet di jalanan, orang-orang yang tidur di angkot, orang-orang yang membaca buku atau novel, mendengarkan mp3 atau sibuk dengan handphone nya, pokoknya sebisa mungkin membuat nyaman diri sendiri dalam perjalanan masing-masing.

Bukan maksud saya menguping pembicaraan orang sebagai alternatif mengisi waktu di jalan, tapi di dalam mikrolet yang besarnya tidak seberapa itu mengkondisikan penumpang dapat mendengar pembicaraan orang lain yang sedang bercakap-cakap (alasan banget ya, hihihi). Kadang pembicaraan tersebut mengganggu, tapi saya juga harus akui memang ada pembicaraan yang menarik perhatian saya (ketauan deh suka ngupingnya, he he).

Suatu pagi dalam perjalanan ke kantor di Mikrolet no.29 menuju Cawang, penumpang di angkot termasuk saya mulai pasrah dengan macet. Seingat saya hari itu juga hujan. Saya mengisi waktu dengan berusaha menyelesaikan membaca sebuah novel. Ada dua pelajar SMU perempuan di dalam angkot yang saya tumpangi. Mereka berdua bercakap-cakap, dan seperti biasa percakapan anak sekolah yang selama ini saya dengar topiknya antara lain seputar pelajaran sekolah (jarang dibicarakan), teman sekolah (cukup sering dibicarakan), dan cowok-cowok ganteng di sekolah (biasanya jadi topik paling hangat).

Saya reka saja nama kedua pelajar itu, karena tidak ada alasan tepat untuk berkenalan dengan mereka dan saya tidak terpikir untuk mencari apakah mereka memakai bet nama atau tidak.

Ayu : “Lu liat gak si Dimas kemarin (nama pelajar pria ini juga saya karang)?”
Tini: “Kenapa emang?”

Ayu : “Kemaren dia pakai topi, SADIS! Cute banget!”

Sontak saya yang sedang membaca novel jadi menoleh ke arah mereka dan berusaha menahan geli sekuat mungkin.

SADIS! sebuah kata yang sepengetahuan saya identik dengan kekerasan, dan menurut KBBI (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php), sadis bermakna:
sa·dis 1 a tidak mengenal belas kasihan; kejam; buas; ganas; kasar: dng — mereka menghukum tawanannya; 2 n orang yg sadis;ke·sa·dis·an n sadisme

Bagaimana ini? Sekarang kata ’sadis’ malah dipakai untuk mengekspresikan sesuatu yang membuat seseorang menjadi sangat terkagum-kagum.
Saya paham maksud anak itu ’sadis! cute banget’, berarti si cowok ganteng itu menjadi sangat guanteng dengan memakai topi, sadis guantengnya, minta ampun mungkin gantengnya, ganteng sekali lah yaw!.

Saya masih sangat geli ketika dua pelajar tersebut melanjutkan bercakap-cakap, kemudian si ‘Ayu’ yang menggunakan kata sadis tadi menelpon dengan telpon gengggamnya,
Ayu: “Dimana lo? Haaaa masih di rumaaaah? sadis!”

Oh kata itu keluar lagi! Saya mau tidak mau menyungging senyum yang sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak. Mungkin kalimat terakhir untuk menunjukkan betapa terkejutnya dia mendengar temannya masih di rumah saat hari sudah siang dan jalanan macet. Jam berapa si ‘teman’ ini akan tiba di sekolah? sadis! (bisa jadi kata ’sadis’ ini muncul karena hukuman yang ditimpakan pada siswa yang terlambat bersifat sadis? ah ‘lebay’ sekali ya saya ini).

Saya jadi mengingat-ingat, kata-kata apa yang pernah saya pakai tapi menyimpang dari maknanya ya? Sepertinya kata ’sadis’ ini juga pernah saya gunakan seperti si ‘Ayu’ ini ketika jaman SMU dahulu kala.

Kalau menyatakan terkagum-kagum pada sesuatu yang indah bisa menggunakan kata sadis, bagaimana kalau kata manis atau cute dicoba untung mengungkapkan sesuatu yang kejam, misal: peristiwa genosida itu cute ya, manis sekali, imut banget!’. Maksa betul saya ini, hihihi.

Mungkin ini salah satu yang dinamakan gejolak kawula muda, ekspresif sekali dalam mengungkapkan pendapat dan perasaannya, sampai-sampai harus menukar-nukar makna sebuah kata. Atau memang perbendaharaan kata kita yang kurang, sehingga susah menemukan kata yang tepat untuk berekspresi sampai pol (pol ini datang darimana pula? he he he).

02/04/2009

‘perfect day…’

Donald Duck4Pernah dengar percakapan seperti di bawah ini?;
A: “Duh, hujan…”
B: “Ya udah neduh aja dulu.”
A: “Udah keujanan, kecipratan becekan di jalan…”
B: “He he he…”
A: “Kalo kata temen gue di kostan ‘udah bangun kesiangan, buru-buru mau mandi taunya gak ada air, kebirit-birit ke kampus taunya gak ada dosen. Pas pulang, di tengah jalan ujan gede. Neduh di pinggir jalan, terus ada mobil lewat nyipratin air becekan sampe ke muka, nanggung udah basah kuyup akhirnya pulang aja. Sampe kostan mau ngerokok… eh rokoknya basah semua, kudu dijemur dulu. Terus habis itu mati lampu pas mau nge game di komputer. Eh tau-tau pacar nelpon minta putus… gara gara baru ditembak sama temen sendiri yang ganteng!’
B: “Bwakakakakakakakak, nggak bangeeeeet….!”

Saya samar-samar ingat percakapan diatas, waktu itu saya dan Erry (teman kuliah saya) sedang makan di BSS – Bakso Super Spesial- di dekat gerbang UNPAD Jatinangor. Waktu itu turun hujan (ini kok kedengerannya mulai seperti lagu ya?), jadi habis makan kami tidak bisa langsung pulang ke kostan karena menunggu hujan reda. Sambil menunggu hujan, percakapan ngalor ngidul dimulai dengan pengandaian rentetan kesialan yang diandai-andaikan Erry.

Saya sudah tidak ingat persis bagaimana percakapan itu, mungkin kalimat Erry pada bagian ‘hari yang sial’ sudah saya lebih-lebihkan, atau memang mirip seperti yang saya tulis, bahkan bisa jadi malah kurang lengkap kesialan yang saya susun pada percakapan di atas (mengingat kebisaan Erry ‘Joko’ menambahkan pengandaian ‘hari yang sial’ ini, he he)

Saya membayangkan deretan kesialan yang diandaikan Erry, ih… ‘ogah’ banget kalau saya harus mengalami kejadian-kejadian tidak mengenakkan tersebut dalam waktu sehari. Dialami dalam hari yang terpisah saja tidak mengenakkan, apalagi dikumpulkan dalam waktu sehari.

Tapi siapa yang pernah tahu kejadian apa yang akan dialami setiap harinya.
Saya gak mau berlebay-lebay bilang saya orang paling sial sedunia, cuma beberapa hari yang lalu saya baru saja mengalami beberapa kejadian yang membuat emosi saya melonjak-lonjak.

Hari itu seperti biasa saya di kantor dengan rutinitas yang sama, kemudian saya dengar tanggul Situ Gintung jebol, semula saya bereaksi biasa saja. Mendengar berita dari mulut teman yang sedang membaca berita di detik.com saya jadi tahu kalau kejadian ini ternyata sangat menyeramkan. Kejadian ini memang tidak ada hubungannya dengan cerita saya berikut, saya cuma teringat kejadian jebolnya tanggul Situ Gintung kemudian diikuti dengan jebolnya pertahanan emosi saya (tsah, gak kuat… :p)

Sore hari beberapa menit menjelang jam pulang kantor, percakapan dengan seorang rekan mengenai pekerjaan membuat saya emosi, ini sudah ke dua kali saya dibuat bete oleh rekan tersebut untuk hal yang sama. Karena susah menyembunyikan kemarahan saya, ngumpetlah saya di divisi lain. Sampai saya sudah bisa menenangkan diri, saya kembali ke meja saya dan bersiap-siap pulang karena sudah tidak bernafsu untuk meneruskan pekerjaan yang sedianya akan saya kerjakan sampai pukul 18.00 sekalian menunggu jalan sedikit terbebas dari macet.

Sesaat sebelum pulang percakapan mengenai hal pribadi (maksudnya bukan urusan perkerjaan) dengan seorang rekan yang lain juga malah membuat saya sebal. Langsung saja saya pulang dan berniat mampir ke kost an teman dekat saya untuk curhat. Jalan masih macet, tapi sore itu lebih macet dari biasanya, mungkin karena hujan deras yang turun tadi siang membuat kendaraan di jalan memperlambat kecepatannya dan biasanya ada beberapa daerah yang terkena banjir atau genangan air yang mebuat perjalanan jadi terhambat.

Macet luar biasa yang saya alami di daerah Kuningan, sampai-sampai bis 46 yang saya tumpangi harus memutar ke arah Mampang Prapatan, namun hasilnya sama saja, karena macet sudah sampai di depan gedung Trans TV. Untungnya kost an teman dekat saya tidak jauh dari situ, jalan memotong malah memudahkan saya untuk tiba lebih cepat di kostannya.

Sesampainya di kostan teman dekat saya, saya melihat beliau dan seorang teman saya yang lain sedang menonton televisi. Saya mulai membuka percakapan mengenai permasalahan saya dengan harapan mendapatkan solusi yang baik. Melihat teman dekat saya yang tidak memandang saya ketika saya bicara dan berbaring dengan gaya Cleopatra yang terkenal di singgasananya, saya curiga dia emoh mendengarkan curhatan saya. Maka saya tanya teman dekat saya itu,
‘Keberatan aku curhat?’
‘Nggak, cuma lagi pening aja!’
Argh… pudarlah semangat saya untuk curhat dan berdiskusi (boro-boro diskusi, prolog nya saja belum sampai satu paragraf).

Dalam perjalanan menuju ke dan tiba di kostan teman dekat saya, percakapan mengenai hal pribadi dengan rekan kerja yang terakhir masih berlanjut melalui sms, dan berkembang menjadi percakapan yang membuat saya sangat sebbbaaalll !!!
Karena saya sudah emosi jiwa, saya menelpon seorang teman kantor yang sudah kena curhat an saya sesaat sebelum pulang tadi.
Saya menceritakan semuanya pada teman saya itu dan hasilnya saya malah menangis sambil tertawa-tawa (seperti di dalam lirik-lirik lagu barat itu), sedangkan teman saya diujung telpon pun tertawa terbahak bahak mendengar cerita saya, dan dia bilang ” Aduh Tria…, mau dapet rejeki apa sih luuuuu, sampai kayak begini banget…?”, dan saya meng AMIN i sambil menyebutkan harapan saya dengan sepenuh hati.
Teman dekat saya yang mendengar saya menangis sambil tertawa-tawa di ruang depan langsung menutup pintu, saya rasa dia takut tetangganya akan berpikir yang macam-macam mendengar ada perempuan histeris di kost annya.

Setelah sedikit lega, saya kembali menonton televisi bersama kedua teman saya. Bukannya menanyakan apa yang membuat saya bertingkah laku seperti orang stress, teman dekat saya malah terkekeh-kekeh menonton Opera Jawa di televisi.

Tidak lama saya memutuskan untuk mengajak kedua teman saya makan malam dan pulang, berharap jalanan sudah tidak macet. Saya dan dua teman saya mampir ke sebuah rumah makan yang masih terbilang baru. Saya memesan mie godog jawa (bukan gondog ya, seperti yang saya rasakan hari itu. He he), dan saya pastikan dengan bertanya pada pelayannya bahwa mie godog itu maksudnya adalah mie rebus.

Tunggu punya tunggu, saya dan kedua teman saya mengobrol, dan tentunya saya langsung menumpahkan uneg-uneg saya, karena niat saya memang akan menceritakannya pada teman dekat saya itu dan lebih-lebih lagi saya sudah seperti orang gila di kostan anya menangis sambil tertawa-tawa.

Makanan kami kemudian datang… dan mie godog saya menjelma menjadi mie goreng! Saya ingat-ingat, apakah saya salah pesan? Emosi saya sudah datar dan waktu saya mencoba mencicipi mie goreng itu ternyata rasanya uennnaaaak tennaaaaan, lalu tiba-tiba pelayan datang lagi,
“Maaf mbak, tadi pesan mie godog ya?”
“Iya…”, jawab saya sambil nyengir karena lega mengetahui saya tidak salah ingat dengan pesanan saya sendiri.
“Mau ditukar mbak?”, wow… menyenangkan sekali, tanpa saya minta dia sudah menawarkan untuk menukar pesanan saya yang salah.
“Oh gak usah, Mas. Terimakasih.”, saya benar-benar gak keberatan makan mie itu karena memang enaaak (mungkin ditambah saya sedang lapar juga).

Selesai makan saya diantar teman dekat saya pulang, dengan bis P57 yang menuju ke arah Cawang. Di perempatan Pancoran, dari arah sebelah kiri meluncur dengan perlahan tapi pasti metromini ke arah Pasar Minggu, padahal lampu merah di jalur tersebut sudah menyala. Kondektur bis berteriak-teriak menyuruh metro mini yang beraksi dalam gerak lambat itu untuk berhenti, sedangkan bis P57 juga terus bergerak maju, semakin lama teriakan kondektur semakin kencang dan beberapa orang juga mulai mengeluarkan suara-suara panik, termasuk saya.
Saya sudah meringis… aduuuuh jangan… jangan…, metromini berhenti tepat ketika bis yang saya tumpangi lewat di depannya, dan supir metro mini itu cuma pasang muka tidak berdosa.

Oorrgh… badan saya lemas, membayangkan bagaimana kalau tadi si supir metro mini dan bis P57 yang saya tumpangi sama-sama keukeuh tidak mau berhenti.

Sampai di stasiun Cawang saya mendengar teriakan dari kursi bagian belakang bis, ‘Anjing .. turun lu! Anjing bla… bla.. bla.., Anjing… dan seterusnya…’. Maaf, tapi perempuan itu memang berteriak-teriak memaki-maki entah siapa sambil menyebut Snoopy, Rin Tin Tin dkk. dengan nama aslinya. Apa isi makiannya saya tidak mendengarnya dengan jelas.
Begitu turun dari bis, saya tanya ke teman dekat saya,
“Ada apa tadi?”
“Orang gila, Nenek-nenek.”
“Hadoh, takut akuuuu….”
“Kasihan perempuan yang disebelahnya, keliahatan ketakutan, makanya dia sibuk nelpon dengan hape nya.”, katanya terkikik.

Upppfhhhh, belum hilang deg-deg an saya gara gara supir metro mini, sudah datang lagi orang gila. Perjalanan ke rumah saya masih harus disambung lagi dengan menumpang mikrolet, begitu melihat mikrolet M19 saya bergegas naik dan… DUGGG! Adooooooh, saya kejedot pintu mikrolet, lumayan keras, dan saat itu saya sudah tidak bisa ngomel, malu pun hanya sedikit. Saya malah menertawakan kejadian itu. Mikrolet yang saya tumpangi ngebut, dan saya berkata dalam hati ‘ duh Bang, jangan tambah lagi deh penderitaan saya hari ini, hiks…’ .

Sampai di rumah, saya istirahat sambil login messanger, cuma ingin tahu siapa saja yang masih online. Saya sedikit kaget melihat status message teman SMU saya yang sedang berbahagia dengan kelahiran putra pertama nya: ” is home sweet homez w my kafka..” (yang tahu sejarah saya dengan skripsi saya mungkin akan terkikik geli membaca ini). Langsung saja saya hampiri teman saya itu,

“Anak lu namanya Kafka?”
“Iya..”
Kemudian kami ngobrol mengenai nama Kafka ini, sambil pikiran saya melayang pada skripsi saya dengan korpus Das Urteil karya Franz Kafka, beberapa orang mungkin tahu kalau skripsi ini ceritanya tidak seratus persen menyenangkan buat saya dan teori-teori Oedipus Complex nya Freud yang ‘nggak banget’ itu sampai kebawa-bawa di mimpi saya.

Saya lihat jam dinding, oh… belum jam 12, hari ini belum lewat. Ya Allah… mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian yang aneh-aneh.
Saya capeeee sekali lah yaw hari itu.
Kemudian saya jadi ingat dengan pengandaian rentetan hari yang sial made by Djoko Erry. Bah!

19/01/2009

Tahi Lalat Tati

Tati cantik sekali, menurutku wajahnya nyaris sempurna, alisnya tersusun dengan rapih, hidungnya tidak mancung tidak pula pesek, bibirnya tampil dengan ukuran sedang, serasi dengan dagu nya yang lancip.
Tidak ada pori-pori sebesar kulit jeruk dan tidak ada komedo. Aku yakin betul! sudah kuamati baik-baik wajahnya. Walaupun kulit Tati tidak putih, aku tidak peduli! Karena ukuran cantikku tidak berpedoman pada iklan kosmetik di televisi. Andai produsen-produsen kosmetik itu melihat Tati, pasti ukuran cantik di dalam iklan mereka akan serta merta berubah, bahkan mungkin akan bermunculan produk produk kosmetik yang menawarkan kulit agar tampak hitam manis, seperti kulit Tati.

Tapi yang paling memesona ku adalah tahi lalat nya. Tahi lalat yang terletak di titik koordinat yang sempurna di wajahnya yang manis. Tahi lalat yang membuat ku memacarinya tiga bulan ini, tahi lalat yang membuatku tidak peduli ketika dia mengomel karena aku terlambat menjemputnya, tahi lalat yang kukenang-kenang ketika hendak tidur. Aaah.. tahi lalat itu, letaknya yang tidak biasa dan jarang kutemui sungguh memesona ku, seolah diletakkan dengan sangat rapih di tengah ujung hidungnya.
Sering Tati memarahiku, dia bilang wajahku terlihat dungu ketika menatap wajahnya lekat-lekat dengan fokus utama pada tahi lalatnya yang di ujung hidung itu, seperti hari ini,
“Wajahmu terlihat bodoh!”
“Memang begini dari sananya”, jawabku ringan
“Tiga bulan lalu aku mau kaupacari karena kau terlihat pintar”
“Memang apanya yang berubah?”
“Setiap diajak bicara, kau tidak langsung menjawab pertanyaanku, malah diam seperti orang dungu”
“Itu karena aku terpesona…”
“Dengan tahi lalat mu yang begitu indah, bah!” potong Tati sambil meniru gaya bicaraku yang diikuti gerakan maju bibirnya hingga kurang lebih satu sentimeter, mulai lah dia cemberut. Tapi tetap saja wajahnya manis, begitu juga dengan tahi lalatnya. Tahi lalat yang begitu indah.
Kalau suasana hatinya sedang senang, terlihat oleh ku tahi lalat itu bagai bersinar sinar dan membuat hatiku pun merasa damai.
“Kau tahu, memang tahi lalat mu begitu indah…”, ujar ku tersenyum sambil tetap memandangi wajahnya dan tahi lalat itu.
“Kau mencintaiku? Maksudku… untuk hubungan yang baru berjalan tiga bulan ini, apakah ada perasan mu mulai mengarah kesana?”, ragu Tati bertanya.
“Tentu…”
“Apakah karena tahi lalat ku yang membuat hubungan ini sampai pada bulan ke lima sejak perkenalan kita?”
Aku tergelak, “Tati… Tati… aku memang memuja tahi lalat dan kecantikanmu. Tapi sampai sejauh ini aku memang benar benar menyukaimu apa adanya…”
“Bagaimana kalau tahi lalat ku ini hilang?”
“Hmmm…”, aku sedikit bingung menjawab pertanyaan Tati.
“Argh… yang benar saja, Din!” Tati memutar bola matanya, menahan kesal.
“Tadi kau bilang manyukaiku apa adanya, belum selesai kalimatmu tadi? Apa yang kau maksud mungkin ‘apa ada tahi lalatnya’?”, sungut Tati tepat di depan wajahku.
Aku terkikik geli, “Aku tetap akan menyukaimu, Tati. Sudahlah, kita lanjutkan saja rencana kita semula untuk berjalan-jalan keliling kota. Besok aku sudah harus ke luar kota, bulan depan baru aku kembali. Lebih baik kita tidak bertengkar.”
Tati masih saja memberengut, namun tahi lalat di ujung hidungnya itu tetap saja membuatku bahagia menatap wajahnya.

*****

Belum lagi tiba di rumah, bayang wajah Tati dan tahi lalatnya yang aduhai itu sudah menggantung di pelupuk mataku. Selama dalam perjalanan dinas beberapa kali kami bertukar kabar, setiap kusinggung soal tahi lalatnya, seperti biasa Tati akan membalas pesan singkatku dengan menggerutu, ‘Aku ingin tahu, bagaimana jadinya kau kalau tahi lalat ku ini raib.’ dan kubalas ‘Tidak masalah, toh kamu tetap cantik dan aku sangat mencintaimu melebihi dari apapun’, dustaku untuk menyenangkan hatinya. Tapi Tati memang bukan perempuan yang mudah dibujuk rayu, dia membalas lagi pesanku dengan sangat singkat,’Jayus!’, dan aku hanya terkikik geli membacanya.

Masih siang pikirku, tak ada salahnya berkunjung ke tahi lalat… maksudku Tati.
Dari bandara dengan muka sumringah aku menumpang taksi ke rumah Tati, dia tidak tahu aku akan pulang hari ini, semoga kedatanganku ke rumahnya bisa menjadi kejutan yang menyenangkan. Aku rindu tahi lalat nya.

Tati sendiri yang membuka pintu. Tati terkejut, aku sangat terkejut.
“Kau kok gak ngasih kabar mau pulang hari ini?”
“Mau bikin kejutan…” ucapku datar sambil tak berkedip memandang hidungnya. “Kenapa…” aku tidak sanggup melanjutkan tanya demi melihat hidung Tati yang berselimutkan perban.
“Masuklah dulu, aku bikinkan minum.”

Setelah duduk dan berusaha menguasai keterkejutanku, Tati mulai bercerita.
Tahi lalat itu kian membesar dan terasa sakit, kata Tati dulu tahi lalat itu kecil sekali. Kemudian Tati memutuskan memeriksakannya ke dokter, dan menurut dokter -aku tidak paham penjelasan ilmiahnya- tahi lalat yang indah itu akan membahayakan Tati jika dibiarkan, maka tahi lalat yang terkadang terlihat seperti bersinar menurutku itu harus diangkat dengan operasi kecil, oh aku benci dokter itu.

Habis satu cangkir teh hangat, aku meminta secangkir lagi pada Tati, rasanya detak jantungku masih belum normal seperti semula.
“Kau kenapa, Udin?”
“Tidak apa-apa”
“Oh, ya ampun. Jangan kau bilang padaku kalau perasaanmu berubah karena tahi lalat ku hilang satu! Aku masih punya dua di lengan, jadi tenang sajalah!”, ujar Tati gusar.
“Tidak, bukan itu. Tidak ada masalah, aku hanya sedikit lelah, perjalanan lumayan jauh. Sebaiknya aku pamit pulang…”, aku berusaha memaksakan untuk tersenyum, Tati mengangakat sebelah alisnya tanda tak percaya.
“Baik, kalau begitu. Istirahatlah, semoga setelah itu pandanganmu terhadap tahi lalatku yang hilang ini berubah normal.” dengus Tati.
‘Semoga…’, bisik hatiku.

*****

Memang pada kenyataannya sikapku berubah pada Tati. Tepatnya tidak menggebu seperti dulu. Tati benar, memang aneh rasanya kalau aku bisa berubah sikap hanya karena tahi lalat. Dua bulan aku tidak menghubungi Tati. Kujawab sms dan telponnya nya hanya sekedar menjaga hubungan baik. Tidak ada lagi jajan di warung tenda pinggir jalan atau makan di restoran, tidak ada lagi nonton di bioskop atau jalan jalan keliling kota. Hanya karena sebuah tahi lalat, oh… aku pun tak habis pikir.

“Jadi mau kau sudahi saja hubungan ini?”, suara Tati di telpon genggamku terdengar sewot.
“Bukan, bukan begitu…” sahutku cepat.
“Lantas? Bukan aku ingin berlebihan, Udin! Tapi memang kita sudah jarang bertemu, tinggal di satu kota dan bertemu hanya satu kali dalam sebulan! Menelponku saja kau tidak pernah, selalu aku yang menghubungimu!”
“Aku…”
“Jangan bilang kau sibuk! Dulu kau sudah nongkrong di depan kantor ku setiap sore menjemput sebelum tahi lalat itu lenyap!”
“Baiklah, aku akui memang itu membuatku sedikit berubah, tapi bukan berarti aku ingin memutuskan hubungan kita. Kau gadis yang baik, pintar, dan manis. Cuma memang tahi lalat itu sedikit menguasaiku..”
“Oh yang benar saja, Udin!”, erang Tati.

Esoknya, setelah percakapan di telpon itu, aku melihat Tati berjalan tergopoh gopoh menghampiri ku dengan wajah yang sangat marah di pelataran parkir kantor.
“Udin…”, teriaknya, beberapa orang menoleh ke arah Tati.
“Udin…”, Tati terengah engah, wajahnya terlihat sangat marah.
“Ada apa ini?”, aku tergagap.
“Aku sudah tidak tahan, Udin! Kalau kau memang hanya ingin memacari tahi lalatku, katakan saja terus terang!”
“Aku.. aku.. kau salah mengerti Tati…”
“Lalu mengapa kau diamkan aku selama dua bulan ini?”
Aku masih tergagap, Tati tergopoh membuka tasnya. Aku tidak tahu apa itu, kemudian secepat kilat…
“Ini! Kalau kau mau tahi lalat… ini! Aku berikan yang serupa! Kuberi bonus, persis letaknya seperti punyaku dulu!”, tangan Tati menunjuk-nunjuk menyentuh dengan keras ujung hidungku dan bagian wajahku yang lain.

“Aku rasa hubungan kita sampai disini saja, Udin! Mungkin kau lebih senang memacari tahi lalat nya langsung!”, Tati membalikkan tubuhnya yang ramping, tergopoh, benar benar marah, namun masih tetap anggun.
Orang-orang menatapku geli. Aku melihat ada sesuatu di ujung hidungku, perlahan aku mendekati spion sebuah motor yang sedang terparkir di dekatku, dan aku ternganga melihat wajahku berbintik bintik hitam, dan yang di ujung hidung lebih besar dari yang lain.
Kusentuh satu titik hitam di ujung hidungku, lengket. Kuambil dan kucium baunya, lalu aku memberanikan diri menggigitnya, manis… ini kismis yang dilumuri madu.
Ah Tati… maafkan aku.