Pernah dengar percakapan seperti di bawah ini?;
A: “Duh, hujan…”
B: “Ya udah neduh aja dulu.”
A: “Udah keujanan, kecipratan becekan di jalan…”
B: “He he he…”
A: “Kalo kata temen gue di kostan ‘udah bangun kesiangan, buru-buru mau mandi taunya gak ada air, kebirit-birit ke kampus taunya gak ada dosen. Pas pulang, di tengah jalan ujan gede. Neduh di pinggir jalan, terus ada mobil lewat nyipratin air becekan sampe ke muka, nanggung udah basah kuyup akhirnya pulang aja. Sampe kostan mau ngerokok… eh rokoknya basah semua, kudu dijemur dulu. Terus habis itu mati lampu pas mau nge game di komputer. Eh tau-tau pacar nelpon minta putus… gara gara baru ditembak sama temen sendiri yang ganteng!’
B: “Bwakakakakakakakak, nggak bangeeeeet….!”
Saya samar-samar ingat percakapan diatas, waktu itu saya dan Erry (teman kuliah saya) sedang makan di BSS – Bakso Super Spesial- di dekat gerbang UNPAD Jatinangor. Waktu itu turun hujan (ini kok kedengerannya mulai seperti lagu ya?), jadi habis makan kami tidak bisa langsung pulang ke kostan karena menunggu hujan reda. Sambil menunggu hujan, percakapan ngalor ngidul dimulai dengan pengandaian rentetan kesialan yang diandai-andaikan Erry.
Saya sudah tidak ingat persis bagaimana percakapan itu, mungkin kalimat Erry pada bagian ‘hari yang sial’ sudah saya lebih-lebihkan, atau memang mirip seperti yang saya tulis, bahkan bisa jadi malah kurang lengkap kesialan yang saya susun pada percakapan di atas (mengingat kebisaan Erry ‘Joko’ menambahkan pengandaian ‘hari yang sial’ ini, he he)
Saya membayangkan deretan kesialan yang diandaikan Erry, ih… ‘ogah’ banget kalau saya harus mengalami kejadian-kejadian tidak mengenakkan tersebut dalam waktu sehari. Dialami dalam hari yang terpisah saja tidak mengenakkan, apalagi dikumpulkan dalam waktu sehari.
Tapi siapa yang pernah tahu kejadian apa yang akan dialami setiap harinya.
Saya gak mau berlebay-lebay bilang saya orang paling sial sedunia, cuma beberapa hari yang lalu saya baru saja mengalami beberapa kejadian yang membuat emosi saya melonjak-lonjak.
Hari itu seperti biasa saya di kantor dengan rutinitas yang sama, kemudian saya dengar tanggul Situ Gintung jebol, semula saya bereaksi biasa saja. Mendengar berita dari mulut teman yang sedang membaca berita di detik.com saya jadi tahu kalau kejadian ini ternyata sangat menyeramkan. Kejadian ini memang tidak ada hubungannya dengan cerita saya berikut, saya cuma teringat kejadian jebolnya tanggul Situ Gintung kemudian diikuti dengan jebolnya pertahanan emosi saya (tsah, gak kuat… :p)
Sore hari beberapa menit menjelang jam pulang kantor, percakapan dengan seorang rekan mengenai pekerjaan membuat saya emosi, ini sudah ke dua kali saya dibuat bete oleh rekan tersebut untuk hal yang sama. Karena susah menyembunyikan kemarahan saya, ngumpetlah saya di divisi lain. Sampai saya sudah bisa menenangkan diri, saya kembali ke meja saya dan bersiap-siap pulang karena sudah tidak bernafsu untuk meneruskan pekerjaan yang sedianya akan saya kerjakan sampai pukul 18.00 sekalian menunggu jalan sedikit terbebas dari macet.
Sesaat sebelum pulang percakapan mengenai hal pribadi (maksudnya bukan urusan perkerjaan) dengan seorang rekan yang lain juga malah membuat saya sebal. Langsung saja saya pulang dan berniat mampir ke kost an teman dekat saya untuk curhat. Jalan masih macet, tapi sore itu lebih macet dari biasanya, mungkin karena hujan deras yang turun tadi siang membuat kendaraan di jalan memperlambat kecepatannya dan biasanya ada beberapa daerah yang terkena banjir atau genangan air yang mebuat perjalanan jadi terhambat.
Macet luar biasa yang saya alami di daerah Kuningan, sampai-sampai bis 46 yang saya tumpangi harus memutar ke arah Mampang Prapatan, namun hasilnya sama saja, karena macet sudah sampai di depan gedung Trans TV. Untungnya kost an teman dekat saya tidak jauh dari situ, jalan memotong malah memudahkan saya untuk tiba lebih cepat di kostannya.
Sesampainya di kostan teman dekat saya, saya melihat beliau dan seorang teman saya yang lain sedang menonton televisi. Saya mulai membuka percakapan mengenai permasalahan saya dengan harapan mendapatkan solusi yang baik. Melihat teman dekat saya yang tidak memandang saya ketika saya bicara dan berbaring dengan gaya Cleopatra yang terkenal di singgasananya, saya curiga dia emoh mendengarkan curhatan saya. Maka saya tanya teman dekat saya itu,
‘Keberatan aku curhat?’
‘Nggak, cuma lagi pening aja!’
Argh… pudarlah semangat saya untuk curhat dan berdiskusi (boro-boro diskusi, prolog nya saja belum sampai satu paragraf).
Dalam perjalanan menuju ke dan tiba di kostan teman dekat saya, percakapan mengenai hal pribadi dengan rekan kerja yang terakhir masih berlanjut melalui sms, dan berkembang menjadi percakapan yang membuat saya sangat sebbbaaalll !!!
Karena saya sudah emosi jiwa, saya menelpon seorang teman kantor yang sudah kena curhat an saya sesaat sebelum pulang tadi.
Saya menceritakan semuanya pada teman saya itu dan hasilnya saya malah menangis sambil tertawa-tawa (seperti di dalam lirik-lirik lagu barat itu), sedangkan teman saya diujung telpon pun tertawa terbahak bahak mendengar cerita saya, dan dia bilang ” Aduh Tria…, mau dapet rejeki apa sih luuuuu, sampai kayak begini banget…?”, dan saya meng AMIN i sambil menyebutkan harapan saya dengan sepenuh hati.
Teman dekat saya yang mendengar saya menangis sambil tertawa-tawa di ruang depan langsung menutup pintu, saya rasa dia takut tetangganya akan berpikir yang macam-macam mendengar ada perempuan histeris di kost annya.
Setelah sedikit lega, saya kembali menonton televisi bersama kedua teman saya. Bukannya menanyakan apa yang membuat saya bertingkah laku seperti orang stress, teman dekat saya malah terkekeh-kekeh menonton Opera Jawa di televisi.
Tidak lama saya memutuskan untuk mengajak kedua teman saya makan malam dan pulang, berharap jalanan sudah tidak macet. Saya dan dua teman saya mampir ke sebuah rumah makan yang masih terbilang baru. Saya memesan mie godog jawa (bukan gondog ya, seperti yang saya rasakan hari itu. He he), dan saya pastikan dengan bertanya pada pelayannya bahwa mie godog itu maksudnya adalah mie rebus.
Tunggu punya tunggu, saya dan kedua teman saya mengobrol, dan tentunya saya langsung menumpahkan uneg-uneg saya, karena niat saya memang akan menceritakannya pada teman dekat saya itu dan lebih-lebih lagi saya sudah seperti orang gila di kostan anya menangis sambil tertawa-tawa.
Makanan kami kemudian datang… dan mie godog saya menjelma menjadi mie goreng! Saya ingat-ingat, apakah saya salah pesan? Emosi saya sudah datar dan waktu saya mencoba mencicipi mie goreng itu ternyata rasanya uennnaaaak tennaaaaan, lalu tiba-tiba pelayan datang lagi,
“Maaf mbak, tadi pesan mie godog ya?”
“Iya…”, jawab saya sambil nyengir karena lega mengetahui saya tidak salah ingat dengan pesanan saya sendiri.
“Mau ditukar mbak?”, wow… menyenangkan sekali, tanpa saya minta dia sudah menawarkan untuk menukar pesanan saya yang salah.
“Oh gak usah, Mas. Terimakasih.”, saya benar-benar gak keberatan makan mie itu karena memang enaaak (mungkin ditambah saya sedang lapar juga).
Selesai makan saya diantar teman dekat saya pulang, dengan bis P57 yang menuju ke arah Cawang. Di perempatan Pancoran, dari arah sebelah kiri meluncur dengan perlahan tapi pasti metromini ke arah Pasar Minggu, padahal lampu merah di jalur tersebut sudah menyala. Kondektur bis berteriak-teriak menyuruh metro mini yang beraksi dalam gerak lambat itu untuk berhenti, sedangkan bis P57 juga terus bergerak maju, semakin lama teriakan kondektur semakin kencang dan beberapa orang juga mulai mengeluarkan suara-suara panik, termasuk saya.
Saya sudah meringis… aduuuuh jangan… jangan…, metromini berhenti tepat ketika bis yang saya tumpangi lewat di depannya, dan supir metro mini itu cuma pasang muka tidak berdosa.
Oorrgh… badan saya lemas, membayangkan bagaimana kalau tadi si supir metro mini dan bis P57 yang saya tumpangi sama-sama keukeuh tidak mau berhenti.
Sampai di stasiun Cawang saya mendengar teriakan dari kursi bagian belakang bis, ‘Anjing .. turun lu! Anjing bla… bla.. bla.., Anjing… dan seterusnya…’. Maaf, tapi perempuan itu memang berteriak-teriak memaki-maki entah siapa sambil menyebut Snoopy, Rin Tin Tin dkk. dengan nama aslinya. Apa isi makiannya saya tidak mendengarnya dengan jelas.
Begitu turun dari bis, saya tanya ke teman dekat saya,
“Ada apa tadi?”
“Orang gila, Nenek-nenek.”
“Hadoh, takut akuuuu….”
“Kasihan perempuan yang disebelahnya, keliahatan ketakutan, makanya dia sibuk nelpon dengan hape nya.”, katanya terkikik.
Upppfhhhh, belum hilang deg-deg an saya gara gara supir metro mini, sudah datang lagi orang gila. Perjalanan ke rumah saya masih harus disambung lagi dengan menumpang mikrolet, begitu melihat mikrolet M19 saya bergegas naik dan… DUGGG! Adooooooh, saya kejedot pintu mikrolet, lumayan keras, dan saat itu saya sudah tidak bisa ngomel, malu pun hanya sedikit. Saya malah menertawakan kejadian itu. Mikrolet yang saya tumpangi ngebut, dan saya berkata dalam hati ‘ duh Bang, jangan tambah lagi deh penderitaan saya hari ini, hiks…’ .
Sampai di rumah, saya istirahat sambil login messanger, cuma ingin tahu siapa saja yang masih online. Saya sedikit kaget melihat status message teman SMU saya yang sedang berbahagia dengan kelahiran putra pertama nya: ” is home sweet homez w my kafka..” (yang tahu sejarah saya dengan skripsi saya mungkin akan terkikik geli membaca ini). Langsung saja saya hampiri teman saya itu,
“Anak lu namanya Kafka?”
“Iya..”
Kemudian kami ngobrol mengenai nama Kafka ini, sambil pikiran saya melayang pada skripsi saya dengan korpus Das Urteil karya Franz Kafka, beberapa orang mungkin tahu kalau skripsi ini ceritanya tidak seratus persen menyenangkan buat saya dan teori-teori Oedipus Complex nya Freud yang ‘nggak banget’ itu sampai kebawa-bawa di mimpi saya.
Saya lihat jam dinding, oh… belum jam 12, hari ini belum lewat. Ya Allah… mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian yang aneh-aneh.
Saya capeeee sekali lah yaw hari itu.
Kemudian saya jadi ingat dengan pengandaian rentetan hari yang sial made by Djoko Erry. Bah!